Bandung – Upaya mitigasi longsor di Jawa Barat dinilai masih belum menunjukkan arah yang jelas dalam menurunkan risiko bencana secara nyata. Meski berbagai program penghijauan dan pemanfaatan data kebencanaan telah dijalankan, hasilnya belum berbanding lurus dengan pengurangan risiko dan pencegahan kejadian longsor di lapangan.
Kondisi geografis Jawa Barat yang didominasi perbukitan dan wilayah dengan curah hujan tinggi menuntut pendekatan mitigasi berbasis analisis geologi dan geoteknik yang kuat. Namun dalam praktiknya, pencegahan longsor kerap disederhanakan pada indikator visual, seperti lahan yang tampak hijau, tanpa diiringi analisis teknis mendalam.
Secara teknis, stabilitas lereng ditentukan melalui perhitungan Safety Factor (SF), yaitu rasio antara gaya penahan dan gaya penggerak pada lereng. Perhitungan ini mempertimbangkan kemiringan lereng, jenis dan sifat mekanik tanah, kedalaman bidang gelincir, sistem drainase, serta karakter perakaran tanaman. Dalam standar geoteknik, lereng dinyatakan relatif aman apabila nilai Safety Factor berada di atas 1,3. Lereng dengan nilai di bawah ambang tersebut tetap berpotensi longsor, meskipun secara visual tampak hijau.
Sejumlah pengamat menilai, BPBD Jawa Barat belum mampu mengoptimalkan analisis data kebencanaan sebagai dasar pengambilan keputusan pencegahan dan pengurangan risiko. Data yang diklaim cepat dan terintegrasi dinilai belum berfungsi nyata dalam mendorong perubahan kebijakan di lapangan, terutama dalam pengendalian tata ruang dan penanganan lereng rawan.
Pemanfaatan teknologi dan sistem informasi kebencanaan selama ini lebih banyak berujung pada penyajian dashboard dan laporan, yang berfungsi administratif dan presentatif, namun belum efektif sebagai alat pengarah kebijakan mitigasi berbasis risiko. Akibatnya, data cepat tidak otomatis menghasilkan tindakan cepat atau intervensi struktural yang terukur.
Pada musim hujan, risiko longsor di Jawa Barat meningkat tajam akibat infiltrasi air yang menaikkan tekanan pori dan menurunkan kuat geser tanah. Dalam kondisi tersebut, vegetasi dengan sistem akar dangkal tidak mampu menahan pergerakan massa tanah, sehingga program penghijauan tanpa analisis teknis justru menciptakan rasa aman semu.
Dengan tingkat kerawanan yang tinggi, mitigasi longsor di Jawa Barat dinilai memerlukan pergeseran pendekatan, dari sekadar pelaporan dan visualisasi data menuju analisis risiko yang benar-benar digunakan sebagai dasar tindakan pencegahan. Tanpa penguatan analisis data dan keberanian menjadikannya dasar kebijakan, upaya pengurangan risiko berpotensi terus kehilangan arah.
#LongsorJabar
#MitigasiBencana
#BPBDJabar
#PenguranganRisikoBencana
#TataRuangJabar
#BencanaAlam
#KeselamatanPublik
#BencanaIndonesia


