TASIKMALAYA – Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat temuan 30 kasus positif campak pada anak selama periode Januari hingga Maret 2026. Kasus tersebut teridentifikasi dari sekitar 100 laporan suspek yang diperiksa melalui uji laboratorium di tingkat provinsi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra, menyatakan seluruh pasien yang terkonfirmasi telah dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan medis.
“Awalnya ada laporan 100 kasus suspek dari puskesmas. Sampel diuji di laboratorium, dan hasilnya 30 anak positif campak. Namun, tidak ada angka kematian dalam kasus ini,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Hasil pemeriksaan tersebut merujuk pada pengujian di Labkesda Provinsi Jawa Barat yang memastikan status infeksi dari setiap sampel yang dikirim fasilitas kesehatan.
Asep menjelaskan, pasien tidak hanya berasal dari wilayah Kota Tasikmalaya, tetapi juga dari Kabupaten Tasikmalaya yang menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo. Penanganan cepat dilakukan untuk mencegah gejala berat yang berpotensi fatal pada anak.
Sebagai langkah pengendalian, Dinkes kini menggencarkan program imunisasi Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Pada 2026, target vaksinasi campak ditetapkan menyasar lebih dari 6.000 balita di wilayah tersebut.
Selain itu, investigasi lapangan dan penyelidikan epidemiologi terus dilakukan guna memetakan penyebaran virus secara lebih akurat.
“Kami meminta tenaga kesehatan memperketat pengawasan terhadap gejala seperti batuk, demam, flu, mata merah, hingga munculnya bintik merah. Jika ada gejala tersebut, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.
Dinkes juga mengimbau keluarga untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana di rumah, termasuk memisahkan anak yang bergejala dari yang sehat, tidak berbagi alat makan, serta menjaga kebersihan melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat dan rutin mencuci tangan. (Red)












