Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia

  • Sejak 66 juta tahun silam, Coelacanth telah dinyatakan punah. Keberadaannya sama sekali tak pernah ditemukan, hingga pada suatu masa di 1938, seorang nelayan di Afrika Selatan tanpa sengaja menangkap ikan yang tidak diketahui jenisnya.

  • Ikan tersebut adalah spesies yang sama dari ikan masa purba yang sudah dinyatakan punah. Sejak itu, Latimeria chalumnae mendapatkan perhatian luas dari masyarakat lokal, dan internasional.

  • Selama 59 tahun, ikan purba tersebut diyakini menjadi satu-satunya yang masih ada di dunia. Namun, pada 1997, para peneliti menemukan saudara mudanya di perairan Sulawesi, tepatnya di Manado, Sulawesi Utara.

  • Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis) sempat diyakini endemik sebagai ikan dengan habitat terbatas, namun kemudian berubah setelah para peneliti menemukan ikan yang sama di perairan Maluku Utara pada 2024.

MATA-PERISTIWA.ID – Indonesia menjadi rumah kedua yang nyaman bagi spesies laut yang sempat dinyatakan punah selama 66 juta tahun. Rumah pertamanya, adalah Benua Afrika, tepatnya perairan Afrika Selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Ikan raja laut, spesies purba ini, menarik perhatian dunia pada 1997 atau 29 tahun lalu. Hewan tersebut menjadi yang kedua ditemukan di dunia, yang sebelumnya diketahui hidup dan menetap di perairan Afrika Selatan.

Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis), nama internasional ikan tersebut, ditemukan pertama kali di perairan Manado, Sulawesi Utara. Penemuan itu menggemparkan dunia, karena fisiknya sangat mirip dengan nenek moyangnya dari periode Cretaceous.

Morfologi ikan tersebut memang sangat unik, berbeda dari kebanyakan ikan moderen yang saat ini ada. Di Indonesia, warnanya cenderung cokelat keemasan, berbeda dengan saudara tuanya di Afrika, Latimeria chalumnae yang tubuhnya didominasi biru keabu-abuan.

Bacaan Lainnya

Keduanya adalah ikan bersirip lobus (sarcopterygians) ukuran besar yang biasa menghuni gua-gua laut di kedalaman sekitar 150-200 meter. Ukurannya terbilang besar, karena bisa mencapai panjang dua meter dengan berat sekitar 100 kilogram.

Peneliti yang berada satu meter di belakang ikan coelacanth pada kedalaman 144 m di bawah permukaanlaut di Maluku Utara.Tim penyelam menggunakan trimix (gas penyelaman campuran oksigen, helium, dan nitrogen yang dikhususkan untuk penyelaman laut dalam. Foto: © Alexis Chappuis/Scientific Reports

Jarak usia penemuan keduanya juga sangat jauh, karena terpisah 59 tahun. Ikan spesies Afrika pertama kali ditemukan pada 1938 di atas kapal pukat ikan lokal, milik seorang kurator museum.

Selain bersirip lobus, keunikan Coelacanth adalah mereka kerabat terdekat tetrapoda dan memiliki beberapa ciri morfologi-anatomi yang tidak ditemukan pada vertebrata yang lebih jauh kekerabatannya, seperti ikan bersirip jari.

Sebelum ditemukan, Coelacanth memiliki dua spesies dalam, yaitu genus Latimeria yang bertahan hingga kini serta Mawsoniidae yang sudah punah puluhan juta tahun lalu.

Meski demikian, dibandingkan dengan saudara tuanya dari Kepulauan Komoro di lepas pantai timur Afrika, ikan raja laut di perairan lepas Sulawesi dinilai masih sangat sulit dikenali karena jarangnya manusia mendokumentasikan.

Kesulitan itu terjadi, karena raja laut lebih menyukai habitat terumbu karang dalam, dan itu masih sulit dijangkau manusia untuk melakukan pengamatan langsung. Kalaupun bisa, harus menggunakan teknologi seperti kapal selam atau kendaraan yang dioperasikan jarak jauh (ROV).

Profil kiri ikan coelacanth L manadoensis, dicirikan dengan pola titik-titik putihnya yang unik dan sirip yang membulat. Foto: © Alexis Chappuis/Scientific Reports

Perairan Indonesia

Kunto Wibowo, Ketua Kelompok Riset Iktiologi dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengakui raja laut spesies unik yang minim dokumentasinya.

Kelangkaan itu, meyakinkan dirinya bahwa ikan tersebut tak hanya hidup di perairan Sulawesi. Terbukti, saat ini sudah ditemukan spesies yang sama di perairan Maluku Utara dan Biak, Papua.

Bukan tidak mungkin, ikan tersebut juga masih ada di perairan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Kawasan-kawasan yang diduga menjadi habitat itu, ada di perairan timur pulau Sumatera dan selatan Jawa.

“Meski bukan ikan bermigrasi, namun dugaan itu ada karena Indonesia memiliki Arlindo, yaitu sistem arus laut penting yang mengalirkan air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Jadi, ikan tersebut kemungkinan besar ikut terbawa aliran,” ucapnya kepada Mongabay, Rabu (29/4/2026).

Meski demikian, ketiga lokasi tersebut memiliki kesamaan, yaitu perairan yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik. Namun, sebaran yang cukup jauh tersebut diduga kuat terjadi karena ada arus bawah air yang didukung dengan vertical migration.

“Namun, semua itu memang masih dugaan. Butuh penelitian lebih lanjut, karena memang ikannya juga di laut dalam, di bawah kedalaman 100 meter lebih.”

Kunto menjelaskan, sebagai ikan ukuran besar, raja laut diduga kuat berperan menjadi predator yang memangsa ikan lain dengan ukuran lebih kecil. Namun juga, menjadi santapan empuk untuk ikan dengan ukuran lebih besar.

Jenis ini memiliki kemampuan berenang lambat dibandingkan ikan lain, serta tidak agresif. Inilah sebabnya, ia lebih senang berdiam diri di gua, di antara celah terumbu karang laut yang dalam.

Raja laut ditemukan di perairan Indonesia, karena pengaruh evolusi bumi selama puluhan juta tahun. Dulunya, bumi satu daratan dan kemudian evolusi mengakibatkan daratan terbelah, lalu raja laut terjebak dalam isolasi perairan.

“Analisis genetika menunjukkan perbedaan signifikan antara spesies Afrika dan Indonesia. Meskipun, secara morfologi sangat mirip. ikan ini tidak menjadi sumber konsumsi makanan, mengingat rasanya tidak enak karena kandungan lemaknya sangat tinggi,” jelasnya.

Inilah ikan purba Coelacanth yang ditemukan di Raja Ampat, Papua Barat. Bukan Spesies baru, merujuk pada Latimeria menadoensis atau dikenal dengan nama ikan raja laut. Foto: Santoso/Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (PSPL) Sorong/kkp.go.id

Dugaan Coelacanth ada di perairan lain juga diyakini Tri Eko Wahjono, Ketua Tim Fungsi Layanan Koleksi Ilmiah Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) BRIN. Keyakinan itu ada, karena dua garis keturunan ikan tersebut di Indonesia sudah terpisah selama 13 juta tahun.

“Ada kemungkinan lebih banyak spesies Coelacanth yang belum ditemukan,” ucapnya, pada Maret 2025 dalam siaran pers resmi BRIN.

Sebagai ikan dari masa purba, raja laut sudah mendapatkan perlindungan penuh dari Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi. Statusnya dilindungi penuh bersama 62 spesies akuatik lain.

“Regulasi tersebut dimaksudkan agar bisa melindungi ikan dengan cara konservasi, tidak boleh ditangkap, atau tidak boleh dimanfaatkan.”

Latimeria menadoensis masuk dalam kelompok Rentan (Vulnerable) dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) menyematkannya dalam kelompok Appendix I atau spesies terancam punah. Karenanya, perdagangan secara internasional dilarang, kecuali untuk penelitian.

Latimeria menadoensis yang spesimen basahnya berada di Gedung Widya Satwaloka, BRIN, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Pada 23 April 2025, jurnal Scientific Reports menerbitkan laporan ilmiah yang dibuat delapan peneliti dan akademisi dari berbagai negara. Laporan tersebut menjelaskan temuan raja laut di perairan Maluku Utara.

Alexis Chappuis, peneliti yang terlibat, menjelaskan kalau penemuan di Maluku Utara terjadi di kedalaman 150 meter dengan menggunakan kapal selam dan ROV. Pengamatan itu sudah dilakukan sejak Oktober 2024 di perairan yang diapit Sulawesi dan Papua Barat.

Menurut peneliti dari Asosiasi Underwater Scientific Exploration for Education (UNSEEN) itu, awalnya Latimeria menadoensis diduga kuat adalah ikan endemik yang hanya ditemukan di perairan Sulawesi. Ia terekspos karena menjadi tangkapan sampingan (by catch) nelayan.

Penampakan raja laut di perairan Maluku Utara, meyakinkan tim ilmuwan bahwa ikan tersebut memang bisa hidup di habitat lain, di luar perairan Sulawesi. Keyakinan itu ada karena tim menyimpulkan dengan hasil penelitian tentang ekosistem terumbu karang mesofotik di kepulauan Maluku sejak 2022.

“Karena kepulauan Maluku terletak di antara Sulawesi dan Papua Barat, kecil kemungkinan hanya ada satu individu yang hidup di wilayah luas ini.”

***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *