Penutupan Pasanggiri, Perkuat Struktur Organisasi

Bandung – Suasana penuh semangat mewarnai Padepokan Seni Mayang Sunda Kota Bandung, Sabtu (4/10/2025).

Ratusan pendekar dan pecinta pencak silat dari berbagai daerah di Jawa Barat berkumpul dalam rangkaian peringatan Milangkala ke-20 Paguyuban Satria Kiansantang Barisan Reformasi (Paskibar) – Laskar Kiansantang.

Bacaan Lainnya

Puncak acara ditandai dengan pertandingan pasanggiri pencak silat yang diikuti 100 peserta dari berbagai daerah, menjadikan ajang ini salah satu kegiatan budaya terbesar di Jawa Barat tahun ini.

Rangkaian Milangkala telah dimulai sejak Rabu (1/10/2025), ketika Ketua Umum Paskibar Encep Wepi Kurnia melantik para ketua DPD tingkat kabupaten dan kota se-Jawa Barat.

Prosesi pelantikan tersebut menegaskan langkah Paskibar dalam memperkuat struktur organisasi sekaligus memperluas peran dalam pembinaan seni bela diri pencak silat.

Dalam sambutannya, Encep Wepi Kurnia menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan warisan budaya yang sarat nilai luhur. Ia menyoroti peran besar Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI), organisasi budaya yang didirikan di Jawa Barat pada tahun 1957, yang hingga kini konsisten menjaga kelestarian pencak silat dan martabat para pendekar.

“PPSI adalah wadah budaya, bukan hanya ajang kompetisi. Di dalamnya terkandung semangat silaturahmi, pelestarian tradisi, dan pembentukan karakter generasi muda. Paskibar akan terus mendukung misi tersebut,” ujar Encep Wepi Kurnia Selaku Ketua Umum Paskibar – Laskar Kiansantang di hadapan ratusan peserta dan tamu undangan.

Ia menambahkan, keberadaan Paskibar selama dua dekade tidak lepas dari komitmen melestarikan berbagai ragam pencak silat tradisional, meningkatkan mutu dan martabat para pendekar, serta menjadi ruang silaturahmi antarperguruan.

Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu membangun karakter generasi muda melalui pembinaan mental dan spiritual yang terkandung dalam nilai-nilai pencak silat.

Pasanggiri pencak silat dalam Milangkala ke-20 ini menjadi sorotan utama. Sebanyak 100 peserta dari berbagai perguruan menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam menampilkan jurus-jurus khas aliran masing-masing. Tidak hanya sebagai ajang adu keterampilan, kegiatan ini juga menjadi media mempererat hubungan antar pesilat di Jawa Barat.

Penutupan acara ditandai dengan penobatan para juara pasanggiri. Mereka diharapkan menjadi teladan sekaligus kebanggaan bagi daerah asalnya. Lebih jauh, keberhasilan penyelenggaraan Milangkala ini menunjukkan bahwa pencak silat tetap hidup dan berkembang sebagai warisan budaya yang harus terus dijaga.

Reporter : Deni ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *