Tanpa Kata Libur: Kisah Jurnalis Garut yang Tetap Memburu Berita di Hari Minggu

Tanpa Kata Libur: Kisah Jurnalis Garut yang Tetap Memburu Berita di Hari Minggu

GARUT, Mata Peristiwa.id – Bagi sebagian besar pekerja, hari Minggu adalah momen sakral untuk melepas penat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, jargon tersebut tidak berlaku bagi dunia jurnalistik. Hal itulah yang tercermin dari dedikasi seorang jurnalis lokal di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang tetap bersiap dengan kamera dan catatannya pada Minggu (17/05/2026).

Menjadi mata dan telinga masyarakat di daerah berjuluk Swiss van Java ini menuntut kesiapan fisik dan mental selama 24 jam penuh dalam seminggu. Berita tidak pernah memilih hari untuk terjadi, dan seorang jurnalis harus selalu siap meliputnya.

Dedikasi di Balik Lensa dan Pena

Asep (34), salah seorang jurnalis media siber yang bertugas di wilayah Garut, membagikan kisahnya saat ditemui tim Mata Peristiwa di kawasan Alun-Alun Garut. Sambil sesekali memantau grup koordinasi di ponselnya, ia bercerita bahwa hari Minggu justru sering kali menjadi hari yang sibuk.

“Di Garut ini, akhir pekan justru penuh dengan kegiatan masyarakat, kunjungan wisata yang padat, hingga potensi kejadian tak terduga di jalur rawan bencana. Tugas kami adalah memastikan dinamika tersebut tersampaikan dengan akurat ke publik,” ujar Asep, Minggu siang.

Baginya, menunda sebuah peristiwa berarti membiarkan masyarakat kehilangan hak informasi mereka. Tantangan terbesar bukan hanya soal manajemen waktu dengan keluarga, melainkan menjaga konsistensi dan akurasi berita di tengah tuntutan kecepatan era digital saat ini.

Bacaan Lainnya

Sinergi dan Perjuangan di Lapangan

Profesi jurnalis di daerah seperti Garut juga dituntut memiliki ketahanan ekstra. Medan geografis yang berbukit dan luas—mulai dari wilayah Garut Utara hingga pesisir Garut Selatan—menjadi ruang kerja sehari-hari yang harus diarungi, bahkan di hari libur sekalipun.

Meski mengorbankan waktu santai, ada kepuasan tersendiri ketika produk jurnalistik yang dihasilkan mampu memberikan dampak positif, menjadi fungsi kontrol sosial, atau membantu mencarikan solusi atas persoalan warga lokal.

Kisah Asep adalah satu dari ratusan potret jurnalis daerah di Indonesia yang mengaburkan batas antara hari kerja dan hari libur demi sebuah komitmen profesi. Di balik setiap lembar berita yang dibaca masyarakat hari ini, ada peluh dan dedikasi yang tidak pernah mengenal kata istirahat. (Irwi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *