Oleh: Dede Farhan Aulawi
Di sebuah kampung kecil, berdirilah sebuah rumah megah berpagar tinggi. Rumah itu milik Pak Rahman, seorang saudagar yang hidup berkecukupan. Mobilnya berganti hampir setiap beberapa tahun, tanahnya luas, usahanya berkembang, dan semua orang tahu bahwa ia adalah orang paling kaya di kampung itu.
Namun, di balik semua kemewahan itu, nama Pak Rahman selalu menjadi bahan gunjingan.
“Dasar orang kaya pelit.”
“Kalau Idul Adha, mana pernah bagi-bagi daging.”
“Hartanya banyak, tapi tak ada manfaatnya buat tetangga.”
Kalimat-kalimat itu nyaris menjadi percakapan rutin di warung kopi, di pos ronda, bahkan selepas salat berjamaah.
Tak sedikit pula yang mencibir ketika melihat Pak Rahman berjalan menuju masjid.
“Percuma ibadah kalau pelit.”
Pak Rahman hanya tersenyum tipis. Ia tidak pernah membalas. Bahkan ketika kata-kata itu sampai ke telinganya, ia memilih diam.
Di kampung yang sama, hiduplah seorang kakek renta bernama Mbah Karim. Sehari-harinya ia berjualan bubur keliling dengan gerobak tua yang rodanya sering berderit.
Pakaiannya sederhana. Rumahnya kecil. Jalannya pun mulai membungkuk dimakan usia.
Anehnya, setiap Hari Raya Idul Adha, Mbah Karim selalu menyembelih seekor sapi dan lima ekor kambing.
Semua warga kagum.
“Luar biasa Mbah Karim.”
“Jualan bubur saja bisa berkurban sebanyak itu.”
“Benar-benar orang saleh.”
Daging kurban itu dibagikan ke seluruh warga tanpa pandang bulu. Tak ada satu rumah pun yang terlewat.
Nama Mbah Karim semakin harum dari tahun ke tahun.
Sementara itu, Pak Rahman tetap menjadi sasaran cibiran.
Ia tidak pernah menjelaskan apa pun.
Tidak pernah membela diri.
Tidak pernah mengatakan bahwa dirinya juga berkurban.
Ia seolah rela dianggap pelit oleh seluruh kampung.
Beberapa tahun berlalu.
Suatu pagi, kabar duka menyelimuti kampung.
Pak Rahman meninggal dunia.
Sebagian warga datang melayat. Sebagian lagi hanya sekadar memenuhi kewajiban sosial.
Di antara mereka masih ada yang berbisik,
“Kasihan juga… tapi ya begitulah hidupnya.”
Idul Adha tahun berikutnya tiba.
Semua warga menunggu Mbah Karim membagikan daging seperti biasanya.
Namun, hingga siang menjelang, tak ada satu pun kantong daging yang datang.
Warga mulai bertanya-tanya.
Mereka mendatangi rumah sederhana Mbah Karim.
Kakek tua itu duduk termenung. Matanya sembab.
“Maafkan saya… tahun ini saya tidak bisa membagikan daging lagi.”
“Kenapa, Mbah?”
“Bukankah setiap tahun Mbah menyembelih satu sapi dan lima kambing?”
Mbah Karim menghela napas panjang.
Dengan suara bergetar ia berkata,
“Saya harus mengatakan yang sebenarnya…”
“Selama ini… bukan saya yang membeli sapi dan kambing itu.”
Semua orang saling berpandangan.
“Lalu… siapa, Mbah?”
Air mata Mbah Karim jatuh.
“Itu semua adalah titipan dari almarhum Pak Rahman.”
Suasana mendadak sunyi.
Tak seorang pun bersuara.
Mbah Karim melanjutkan,
“Beliau setiap tahun datang kepada saya.”
“‘Mbah, tolong sembelihkan sapi dan kambing ini atas nama Allah. Bagikan kepada seluruh warga. Jangan pernah sebut nama saya.’”
“Saya pernah bertanya mengapa harus dirahasiakan.”
Beliau hanya menjawab,
“‘Aku takut amal ini rusak karena pujian manusia. Biarlah hanya Allah yang tahu.’”
Suara Mbah Karim semakin lirih.
“Beliau bahkan berpesan, kalau ada yang mencaci, jangan dibela. Biarkan saja.”
“Saya memegang amanah itu selama bertahun-tahun.”
“Dan sekarang… beliau sudah tiada.”
Tak ada lagi yang mampu menahan tangis.
Orang-orang yang selama ini paling keras mencibir justru menundukkan kepala paling dalam.
Mereka teringat semua ucapan yang pernah mereka lontarkan.
“Orang kaya pelit…”
“Ibadahnya sia-sia…”
“Tak pernah peduli tetangga…”
Setiap kalimat itu kini terasa seperti cambuk yang menghantam hati mereka sendiri.
Seorang ibu menangis tersedu.
“Aku pernah menghardiknya di depan rumahnya…”
Seorang bapak memukul dadanya.
“Aku pernah mempermalukannya di warung…”
Seorang pemuda berkata lirih,
“Padahal setiap tahun keluargaku makan daging dari hartanya.”
Tak ada yang mampu menghapus penyesalan itu.
Sore harinya, hampir seluruh warga berjalan menuju pemakaman.
Tak ada yang membawa bunga.
Tak ada yang membawa karangan.
Mereka hanya membawa hati yang remuk dan doa-doa yang terlambat.
Di depan pusara Pak Rahman, tangis pecah.
“Ya Allah… ampunilah kami.”
“Kami telah berprasangka buruk.”
“Kami telah menggunjing orang yang justru diam-diam menolong kami.”
“Lapangkan kuburnya…”
“Terimalah semua amal ikhlasnya.”
Angin sore berembus pelan, menggugurkan daun-daun di sekitar makam.
Semua orang menyadari satu hal yang sangat menyakitkan.
Betapa mudahnya manusia menilai apa yang tampak di mata, sementara Allah mengetahui segala yang tersembunyi di dalam hati.
Mereka pulang dengan langkah yang berat.
Sejak hari itu, tak seorang pun lagi berani menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat.
Karena mereka telah belajar, bahwa kebaikan terbesar sering kali berjalan tanpa tepuk tangan, tanpa pujian, bahkan tanpa nama.
Dan mereka juga belajar satu pelajaran yang tak akan pernah terlupakan:
Air mata penyesalan memang hampir selalu datang belakangan. Saat kebenaran terungkap, sering kali orang yang pantas menerima ucapan terima kasih telah lebih dahulu pergi meninggalkan dunia.





