Jakarta – Mataperistiwa.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang
perkuat kemampuan berpikir kritis calon tutor PKBM Warga Mandiri melalui pelatihan pencarian, validasi, dan analisis informasi dalam lanjutan Training of Trainer (ToT) bersama Sekolah Erudio Indonesia, Selasa (13/10), di Aula Gedung II.
Dalam sesi presentasi proyek, para calon tutor tidak hanya menyampaikan gagasan,tetapi juga diminta menjelaskan sumber informasi, proses pengumpulan data, serta dasar kesimpulan yang mereka bangun.
Setiap kelompok mendapat tanggapan dan pertanyaan kritis dari tim fasilitator.
Salah satunya, Purnama Sari Pelupessy, yang mempertanyakan kecukupan responden dalam proyek bertema survival. Kelompok menjelaskan bahwa responden dengan latar belakang sesuai fokus kajian memang terbatas.
Diskusi tersebut menjadi pembelajaran
tentang pentingnya menguji temuan dan memahami keterbatasan data sebelum
menarik kesimpulan.
Bagi Aris Setyawan, salah seorang calon tutor, proses tersebut memberikan
pengalaman baru dalam mengolah dan mempertanggungjawabkan informasi.
“Ini pengalaman yang luar biasa. Kami belajar bahwa mencari informasi saja tidak cukup. Sumbernya harus diperiksa,datanya dibandingkan, dan kesimpulannya harus bisa dijelaskan,” ungkapnya.
Ketua Tim sekaligus Founder Sekolah Erudio Indonesia, Monika Irayati, mengaku takjub melihat perkembangan peserta pada pertemuan kali ini, terutama keberanian mereka dalam menyampaikan gagasan dan menjelaskan proses pencarian informasi.
“Saya takjub melihat perkembangan teman-teman hari ini. Mereka mulai lebih percaya diri, mampu menjelaskan dari mana informasi diperoleh, bagaimana memvalidasinya,
dan alasan di balik kesimpulan yang dibuat. Ini kemajuan yang sangat berarti,” ujar Ira.
Pembina PKBM Warga Mandiri, Septiyawan, menyampaikan harapan Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, agar pelatihan tersebut membentuk calon tutor yang
tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga mengembangkan cara belajar yang aktif dan kritis.
“Harapan Bapak Kalapas, calon tutor mampu mengajak peserta didik berpikir, mencari tahu, dan memecahkan persoalan secara mandiri.
Dengan begitu, PKBM bukan hanya
menjadi tempat memperoleh pendidikan kesetaraan, tetapi juga ruang tumbuhnya
pengetahuan dan keterampilan Warga Binaan,” jelas Septiyawan.
Melalui kolaborasi ini, Lapas Cipinang terus mengembangkan PKBM Warga Mandiri sebagai ruang pembelajaran berbasis proyek, dengan menyiapkan calon tutor yang mampu menguji informasi, membangun diskusi, dan mengubah pengetahuan menjadi gagasan yang bermanfaat. (sta)




