OPINI, mata-peristiwa.id – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 bukan sekadar seremoni mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara. Bagi Dede Farhan Aulawi, momentum ini adalah alarm bagi bangsa untuk melihat sejauh mana “ruh” pendidikan kita bertahan di tengah gempuran digitalisasi yang sering kali mencerabut akar kemanusiaan.
Dalam sebuah kesempatan refleksi, Dede Farhan Aulawi menekankan bahwa pendidikan Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan antara kemajuan teknologi dan ancaman krisis karakter.
Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Ilmu
Dede Farhan menyoroti fenomena di mana sekolah dan kampus mulai terjebak pada digitalisasi yang bersifat fisik semata. Menurutnya, pendidikan jangan sampai direduksi hanya menjadi proses transfer informasi yang kini bisa dilakukan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
“Jika pendidikan hanya soal transfer pengetahuan, maka manusia akan kalah dari mesin. Esensi pendidikan yang sesungguhnya adalah transfer nilai (transfer of values) dan pembentukan karakter (character building),” tegas Dede Farhan. Ia memandang bahwa guru dan dosen harus kembali ke khitah sebagai inspirator dan teladan, bukan sekadar operator aplikasi pendidikan.
Ancaman di Balik Kemudahan Digital
Sebagai pengamat yang konsen pada masalah keamanan dan ketahanan sosial, Dede Farhan mengingatkan risiko dari “pendidikan tanpa filter”. Generasi muda yang dibesarkan oleh algoritma media sosial tanpa fondasi moral yang kuat akan rentan terhadap radikalisme, perundungan siber (cyberbullying), hingga kehilangan jati diri bangsa.
Ia mengusulkan agar Hardiknas 2026 menjadi titik balik penguatan Ketahanan Pendidikan Nasional. Artinya, kurikulum harus mampu menyaring pengaruh global namun tetap adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan.
Tiga Pilar Sinergi
Pandangan Dede Farhan selalu mengedepankan sinergi. Dalam kacamata beliau, keberhasilan Merdeka Belajar di tahun 2026 tidak bisa hanya dibebankan kepada pundak Mendikbudristek semata. Ada tiga pilar yang harus kokoh:
-
- Orang Tua sebagai Madrasah Utama: Pendidikan karakter dimulai dari meja makan, bukan dari meja kelas.
- Sekolah sebagai Laboratorium Kemanusiaan: Tempat siswa belajar berinteraksi, berempati, dan berkolaborasi.
- Lingkungan Masyarakat yang Sehat: Termasuk ekosistem digital yang tidak merusak moralitas anak bangsa.
Penutup: Merdeka yang Bertanggung Jawab
Menutup pandangannya, Dede Farhan Aulawi mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memaknai “Merdeka Belajar” sebagai kebebasan yang bertanggung jawab. Merdeka berarti berdaulat atas pikiran sendiri, bukan terbelenggu oleh tren sesaat yang menjauhkan dari nilai-nilai luhur Pancasila.
“Mari kita jadikan Hardiknas 2026 sebagai momentum untuk melahirkan generasi yang otaknya global, namun hatinya tetap lokal (nasionalis),” pungkasnya.
#DedeFarhanAulawi #Hardiknas2026 #PandanganTokoh #PendidikanKarakter #MataPeristiwa #OpiniPendidikan #MerdekaBelajar #PendidikanNasional











