KOTA BANDUNG, mata-peristiwa.id – Â Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menegaskan perlunya program peningkatan kompetensi matematika siswa secara menyeluruh, mulai dari jenjang SD hingga SMA.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Tim Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa SMA se-Jabar dari FMIPA ITB, Prof. Edy Tri Baskoro usai peluncuran hasil Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa se-Jawa Barat yang dilaksanakan pada 21–22 Oktober 2025 di Aula Dewi Sartika Kantor Disdik Jabar, Kota Bandung, Selasa (5/5/2026).
“Matematika merupakan core competency yang harus dikuasai oleh semua siswa dari semua level. Matematika adalah fondasi untuk memahami perkembangan bidang-bidang lain, science, engineering, semuanya,” ujarnya.
Prof. Edy menyebut, hasil pemetaan ini sejalan dengan kondisi nasional yang telah lebih dulu tercermin dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Kompetensi matematika di Indonesia masih sangat rendah. Hasil TKA menunjukkan itu dan temuan pemetaan kita meng-emphasize hal yang sama,” tegasnya.
Pemetaan yang dilakukan melalui platform online testing MathERA melibatkan 3.046 siswa dari 157 SMA negeri dan swasta di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Skor rata-rata provinsi berada di angka 500, setara rerata skala PISA internasional.
Distribusi kompetensi siswa terbagi dalam empat level. Sebanyak 39,40% siswa berada di level I (pemahaman konseptual dasar) dan 35,78% di level II (kemampuan prosedural). Sehingga, lebih dari 75% siswa masih berada pada kemampuan dasar dan baru mampu menyelesaikan soal-soal rutin.
Sementara itu, level III (penalaran dan argumentasi matematis) dicapai oleh 23,70% siswa dan hanya 1,12% atau 34 siswa yang berhasil menembus level IV (problem solving tingkat tinggi), standar minimum yang dituntut dalam UTBK maupun asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.
Dari sisi bidang studi, kekuatan siswa Jawa Barat relatif merata pada bilangan serta data dan peluang. Adapun aljabar, geometri dan pengukuran serta matematika lanjut dan kalkulus menjadi bidang dengan capaian paling lemah.
Dari 27 kabupaten/kota, sebanyak 13 wilayah mencatat nilai rata-rata di atas rata-rata provinsi. Berdasarkan data, tujuh wilayah menunjukkan kinerja tinggi dan konsisten. Yakni Kabupaten Pangandaran (542,06), Kabupaten Purwakarta (529,61), Kota Bekasi (532,83), Kota Sukabumi (531,06), Kabupaten Tasikmalaya (531,33), Kabupaten Bogor (528,64), dan Kota Bandung (527,16).
Sebaliknya, lima wilayah mencatat capaian terendah, yakni Kota Cirebon (443,07), Kota Tasikmalaya (450,49), Kabupaten Bandung Barat (461,44), Kabupaten Kuningan (464,44), dan Kabupaten Majalengka (467,45). Kesenjangan antarwilayah ini dinilai signifikan dan memerlukan strategi intervensi berbasis wilayah.
Prof. Edy menyebut dua aktor utama yang harus menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kompetensi matematika, yakni siswa dan guru. Ia secara khusus menyoroti persoalan latar belakang akademik tenaga pengajar matematika di lapangan.
“Guru memegang kendali dalam pembelajaran. Tapi tidak sedikit guru matematika yang latar belakangnya bukan matematika. Ada yang dari sains, bahkan sosial. Ini yang perlu kita perbaiki, baik kemampuan mengajarnya maupun kemampuan matematikanya itu sendiri,” ujarnya.








