CIANJUR, MATA-PERISTIWA.ID – Kepolisian Resor (Polres) Cianjur, Jawa Barat, menyalurkan bantuan sembako kepada pekerja pabrik tahu dan tempe lokal pada Minggu (7/6). Para pekerja tersebut terdampak penghentian produksi akibat tingginya harga kedelai. Kegiatan sosial ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli mendatang.
Hasil Gotong Royong Anggota Polri
Kapolres Cianjur, AKBP Alexander Yurikho Hadi, menjelaskan bahwa bantuan ini murni hasil donasi sukarela seluruh personelnya. Pihak kepolisian bergerak cepat setelah mendapatkan informasi media mengenai banyaknya pabrik tahu yang gulung tikar.
Sebanyak 34 paket bantuan pangan disalurkan langsung untuk meringankan beban ekonomi para buruh.
“Ini bantuan dari seluruh personel Polres Cianjur, bukan dari saya pribadi. Kami menggalang dana untuk membantu meringankan beban masyarakat yang kesulitan ekonomi, termasuk pekerja pabrik tahu yang dirumahkan,” ujar AKBP Alexander Yurikho Hadi.
Harapan Pabrik Kembali Beroperasi
Pihak kepolisian berharap pasokan pangan darurat ini dapat menyokong kebutuhan dasar pekerja selama masa sulit. Langkah ini juga menjadi stimulan penopang hidup sembari menunggu stabilitas harga kedelai impor kembali normal di pasar.
“Niat kami sederhana, yaitu meringankan beban saudara kami yang terdampak kondisi ekonomi saat ini. Kami berharap situasi ini tidak berlangsung lama, harga kedelai kembali normal, dan pabrik kembali berproduksi,” tambah Kapolres.
Polres Cianjur juga berkomitmen untuk terus menggelar aksi sosial lain yang menyentuh langsung masyarakat yang membutuhkan di wilayah Cianjur.
Dua Bulan Menjadi Buruh Serabutan
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa para pekerja telah menganggur cukup lama. Salah satu pekerja pabrik tahu, Ceceng (32), mengaku sangat bersyukur atas kepedulian pihak kepolisian. Sudah dua bulan terakhir tempatnya bekerja berhenti beroperasi karena pemilik pabrik tidak kuat menanggung biaya produksi.
“Sangat berterima kasih kepada Polres Cianjur karena sudah peduli dan melihat kondisi kami. Harapan kami pabrik bisa beroperasi lagi setelah harga kedelai normal. Saat ini, sebagian besar rekan kami terpaksa beralih menjadi buruh serabutan,” ungkap Ceceng.***








