Suhu Dingin ‘Bediding’ Capai 13,4 Derajat di Bandung, Warga Ubah Pola Hidup dan BMKG Ungkap Penyebabnya

BANDUNG, MATA-PERISTIWA.ID – Fenomena suhu udara dingin yang dikenal masyarakat sebagai bediding masih berpotensi melanda wilayah Bandung Raya dan sekitarnya selama musim kemarau berlangsung. Wilayah yang berada di cekungan perbukitan ini bahkan sempat mencatatkan suhu terendah hingga 13,4 derajat Celsius di kawasan Lembang sepanjang Juli 2026.

Hawa dingin ekstrem pada malam hingga pagi hari ini berdampak langsung pada perubahan pola aktivitas harian warga setempat. Dendi (39), warga Rancaekek, mengaku suhu dingin yang menusuk tulang membuatnya harus memakai selimut tebal dan sering kali terlambat bangun pagi.

“Dingin sekali, jadi harus pakai selimut tebal. Biasanya bangun jam 04.30 WIB untuk persiapan Subuh, tapi dua hari terakhir karena dinginnya sampai 13–14 derajat Celsius, bangun sering kesiangan. Anak-anak juga makin berat kalau disuruh mandi pagi kecuali pakai air hangat,” ujar Dendi, Rabu (29/7/2026).

Untuk menjaga kebugaran tubuh, Dendi menyiasatinya dengan menyempatkan olahraga ringan sesudah mengantar anak-anaknya ke sekolah.

Pedagang Pakai Jaket Lapis Tiga, Puncak Belanja Shift Agak Siang

Dampak fenomena bediding juga dirasakan oleh Chandra (40), seorang pedagang di wilayah Bojongkoneng. Demi memenangi rasa dingin saat berbelanja ke pasar pada pukul 03.00 WIB, ia terpaksa mengenakan pakaian hangat ekstra.

“Paling pakaiannya digandakan. Pakai dua lapis jaket, ditambah satu rompi, dan celananya juga double. Sama rutin minum air hangat,” tutur Chandra.

Chandra menambahkan, meski omzet jualannya relatif stabil, terdapat pergeseran peak hours atau puncak waktu transaksi konsumen. Jika biasanya warga berbelanja sejak Subuh, kini konsumen baru ramai mendatangi lapaknya menjelang siang karena enggan keluar rumah saat hawa dingin menyengat.

Penjelasan BMKG: Efek Tutupan Awan dan Monsun Australia

Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mengonfirmasi bahwa potensi suhu dingin ekstrem masih akan bertahan selama musim kemarau.

Bacaan Lainnya

Plt. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, menjelaskan bahwa masuknya Bandung ke puncak kemarau menyebabkan tutupan awan menjadi sangat minim.

“Saat musim kemarau, siang hari terik radiasi matahari diterima bumi secara maksimal karena tidak tertutup awan. Pada malam hari, tanpa tutupan awan, pelepasan radiasi ke atmosfer terjadi secara masif sehingga permukaan bumi mendingin dengan cepat,” terang Edi Wibowo.

Selain faktor tutupan awan, pengaruh pergerakan massa udara dingin dan kering dari wilayah Australia—dikenal sebagai Angin Monsun Australia—yang sedang mengalami musim dingin di Belahan Bumi Selatan (BBS) turut menjadi pendorong utama datangnya fenomena bediding ini.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga ketahanan tubuh dan menggunakan pakaian hangat selama beraktivitas di luar ruangan pada malam hingga dini hari.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *