GARUT, MATA-PERISTIWA.ID – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut kembali menuai sorotan. Pihak SMK Setia Bhakti Cilawu memutuskan untuk mengembalikan lebih dari 400 porsi paket makanan MBG ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) usai menemukan sejumlah item menu dalam kondisi belum matang.
Temuan tersebut didapati oleh tim guru piket saat melakukan pengujian serta pemeriksaan fisik sesuai standar operasional prosedur (SOP) yayasan sebelum paket makanan dibagikan kepada para siswa.
Perwakilan SMK Setia Bhakti Cilawu, Ihsan Ahmad Kamil, mengonfirmasi bahwa penarikan ini dilakukan guna mencegah risiko gangguan kesehatan pada ratusan pelajar di sekolahnya.
“Guru piket berinisiatif mengembalikan makanan tersebut kepada SPPG. Sesuai SOP yayasan, makanan yang dinilai tidak layak konsumsi dilarang keras diberikan kepada siswa,” ujar Ihsan, Selasa (18/8/2026).
Kronologi dan Rincian Temuan Menu MBG Tidak Layak:
Pihak sekolah merinci sejumlah temuan makanan mentah yang menjadi penyebab pengembalian massal paket MBG tersebut.
-
Menu Bermasalah: Acar wortel mentah serta lauk olahan crispy (berbahan dasar ikan atau ayam) yang belum matang sepenuhnya.
-
Menu Matang: Komponen nasi putih dan pepes tahu ditemukan dalam kondisi layak konsumsi.
-
Jumlah Paket: Lebih dari 400 porsi (seluruh jatah harian siswa SMK Setia Bhakti Cilawu) ditarik total dan dikembalikan.
-
Asal Penyuplai: Paket MBG didistribusikan oleh SPPG Desa Kolot 1, Kecamatan Cilawu, Garut.
Kejadian Berulang dan Belum Ada Tanggapan SPPG
Ihsan menyayangkan insiden makanan mentah ini karena bukan kali pertama terjadi di sekolahnya. Ini merupakan kejadian kedua dalam kurun waktu pelaksanaan program MBG di SMK Setia Bhakti Cilawu.
Hingga Selasa (18/8/2026), pihak penyedia layanan belum memberikan respons maupun langkah korektif mengenai ratusan porsi makanan yang dikembalikan pekan lalu.
“Justru sampai sekarang belum ada tanggapan atau tindak lanjut dari pihak SPPG terkait pengembalian makanan hari itu. Kami berharap ada evaluasi dan perbaikan ketat ke depannya agar hal serupa tidak kembali terulang,” tegas Ihsan.
Penerapan verifikasi ketat sebelum distribusi terbukti berhasil menekan risiko keracunan atau gangguan pencernaan pada ratusan pelajar di SMK Setia Bhakti Cilawu.
(Irwi/Mata-Peristiwa)





