Modal Rp 70 Ribu Nekat Tinggalkan Bekasi, Kisah Haru Zakaria Memulung di Pangandaran Demi Sekolah 3 Anaknya

PANGANDARAN, MATA-PERISTIWA.ID – Raut lega memancar dari wajah Zakaria (38) saat duduk di ruang Kepala SDN 3 Pangandaran, Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Senin (3/8/2026).

Perjuangannya menghantar serta menjemput buah hati di sekolah merupakan impian lama yang akhirnya berbuah manis, setelah sebelumnya sempat terkendala dokumen kependudukan dan himpitan ekonomi.

“Niat banget. Pengen jangan sampai anak-anak kayak orangtuanya. Pengen mereka sekolah,” ujar Zakaria penuh haru saat ditemui wartawan di lokasi.

Demi mewujudkan cita-cita sederhana tersebut, Zakaria rela melakoni pekerjaan sebagai pemulung. Setiap hari, ia menyusuri lorong dan jalanan Pangandaran mengumpulkan barang bekas demi mengais rezeki untuk kebutuhan makan serta keberlanjutan pendidikan anak-anaknya.

Hijrah dari Bekasi Berbekal Ongkos Rp 70.000

Jauh sebelum menetap di Pangandaran, Zakaria hidup berpindah-pindah di Bekasi dengan mengandalkan pekerjaan serabutan, mulai dari buruh bangunan, tukang las, hingga penarik becak. Titik balik kehidupannya terjadi usai berpisah dengan sang istri, yang mendorongnya nekat pergi membawa anak-anaknya tanpa arah pasti.

Berbekal uang tersisa Rp 70.000, Zakaria memboyong anak-anaknya naik bus menuju Pangandaran. Uang tersebut terpaksa ia bagi: Rp 50.000 untuk ongkos bus, dan Rp 20.000 sisanya difungsikan agar anak-anaknya tidak kelaparan di jalan.

Setibanya di Terminal Pangandaran tanpa sanak keluarga, ia berjalan menuju tepi pantai. Melihat tumpukan sampah plastik dan barang bekas berserakan, timbul inisiatif di benaknya untuk mengumpulkannya demi bertahan hidup.

Terganjal Dokumen Kependudukan hingga Lulus Bersekolah

Status kependudukan menjadi kendala berikutnya. KTP milik Zakaria hilang dan belum sempat diurus kembali. Dari lima anaknya, satu telah menikah, satu berada di Bekasi, dan tiga anak lainnya ikut bersamanya di Pangandaran.

Bacaan Lainnya

Demi menunggu kepastian janji seseorang yang menawarkan bantuan pengurusan sekolah, Zakaria bahkan sempat berhenti memulung selama satu minggu. Meski orang tersebut tidak kunjung kembali, ulur tangan dari pihak lain akhirnya menghubungkannya ke pemerintah desa dan pihak sekolah. Kini, ketiga buah hatinya telah resmi terdaftar sebagai peserta didik.

Di tengah pendapatan memulung yang sering kali hanya menyentuh Rp 25.000 per hari, Zakaria terus berjuang membayar kontrakan seharga Rp 300.000 per bulan yang kerap menunggak. Jika tubuhnya jatuh sakit dan tak sanggup berdiri, ketetanggaan dan kepedulian warga sekitar menjadi penambal duka bagi keluarganya.

“Ya kotor-kotor juga enggak apa-apa. Yang penting anak saya bisa makan. Daripada saya ngemis, mending saya mulung,” tegas Zakaria.

Donasi Kemanusiaan untuk Keluarga Zakaria

Bagi pembaca, donatur, atau masyarakat luas yang tergerak untuk mengulurkan tangan dan membagikan bantuan kepada Zakaria serta anak-anaknya, donasi dapat disalurkan melalui Redaksi MATA-PERISTIWA.ID:

🏦 Informasi Rekening Donasi:

  • Nama Bank: SEABANK

  • Nomor Rekening: 9019 1587 1126

  • Nama Bank: GoPay

  • Nomor Rekening: 0858 7153 5424

  • Atas Nama: Agus Wahyudin, SE., C.EJ., C.BJ. (Pimpinan Redaksi MATA-PERISTIWA.ID)

(Red/MP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *