Seluruh Perhiasan Dunia Akan Menjadi Beban Tanggung Jawab di Akhirat

Oleh: Dede Farhan Aulawi

MATA-PERISTIWA.ID – Dunia sering hadir dengan wajah yang menawan. Ia menghiasi dirinya dengan kemewahan, jabatan, harta, pujian, dan segala bentuk kenikmatan yang membuat manusia terpikat. Banyak orang mengira bahwa semakin banyak perhiasan dunia yang dimiliki, maka semakin tinggi pula nilai kehidupannya. Padahal dalam pandangan ruhani, setiap perhiasan dunia yang digenggam bukan sekadar nikmat yang dinikmati, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Harta yang dikumpulkan dengan susah payah bukan hanya akan ditanya dari mana ia diperoleh, tetapi juga ke mana ia dibelanjakan. Jabatan yang dianggap sebagai kemuliaan bukan hanya memberi kehormatan di mata manusia, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar tentang keadilan yang telah ditegakkan. Ilmu yang dimiliki bukan hanya menjadi kebanggaan intelektual, melainkan akan ditanya apakah ia diamalkan atau justru disembunyikan. Bahkan usia yang dihabiskan setiap hari akan diminta penjelasan, untuk apa ia digunakan selama hidup di dunia.

Banyak manusia terlena karena mengira kenikmatan adalah tanda cinta, padahal bisa jadi itu adalah ujian yang halus. Tidak semua yang indah membawa keselamatan. Kadang sesuatu yang tampak berharga di mata manusia justru menjadi beban yang berat di akhirat. Rumah yang megah, kendaraan yang mewah, pakaian yang mahal, dan kedudukan yang tinggi dapat berubah menjadi saksi yang memberatkan apabila semua itu melahirkan kesombongan, kelalaian, dan ketidakpedulian terhadap sesama.

Bacaan Lainnya

Semakin besar seseorang memiliki dunia, semakin besar pula hisab yang menantinya. Orang miskin mungkin berjalan ringan menuju akhirat karena sedikit yang dibawa, sedangkan orang yang tenggelam dalam kemewahan bisa tertahan lama karena banyak yang harus dijelaskan. Apa yang dahulu dibanggakan di dunia dapat berubah menjadi penyesalan ketika manusia menyadari bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi miliknya selain amal.

Perhiasan dunia bukanlah sesuatu yang haram untuk dimiliki, karena Allah memang menciptakan keindahan untuk manusia. Namun yang berbahaya adalah ketika hati ikut dimiliki oleh dunia. Ketika tangan menggenggam dunia, itu masih aman. Tetapi ketika dunia menggenggam hati, maka saat itulah manusia mulai kehilangan arah. Sebab dunia yang seharusnya menjadi sarana menuju Allah justru berubah menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhannya.

Pada akhirnya, seluruh gemerlap dunia akan ditinggalkan. Tidak ada emas yang dibawa ke kubur, tidak ada jabatan yang menemani liang lahat, tidak ada pujian manusia yang mampu menerangi gelapnya alam barzakh. Yang tinggal hanyalah catatan amal dan tanggung jawab atas segala yang pernah dimiliki. Maka bijaklah dalam memandang dunia, karena setiap kenikmatan yang hari ini terasa indah bisa menjadi beban yang berat ketika kelak dihisab di akhirat.

Karena itu, bukan banyaknya dunia yang menentukan keselamatan seseorang, tetapi bagaimana ia memperlakukan dunia tersebut. Jika dunia dijadikan jalan untuk taat, ia menjadi cahaya. Namun jika dunia dijadikan tujuan hidup, ia bisa menjadi rantai yang memberatkan langkah menuju kehidupan yang abadi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *