Sindikat Jual Beli Titik Dapur Makan Bergizi Gratis di Cianjur Terbongkar, Korban Rugi Miliaran!

CIANJUR, MATA-PERISTIWA.ID – Praktik ilegal jual beli titik dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) marak terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Aksi penipuan bermodus penunjukan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini memakan banyak korban dengan total kerugian menyentuh angka miliaran rupiah.

Para pelaku di lapangan dilaporkan bergerak masif dalam enam bulan terakhir dengan menyasar para pengusaha lokal dan pemilik modal.

Modus Catut Nama Petinggi Badan Gizi Nasional

Seorang pengusaha mitra dapur MBG, Iza (bukan nama sebenarnya), membeberkan bahwa dirinya berulang kali didatangi oleh komplotan oknum yang menawarkan jatah titik operasional dapur baru di wilayah Cianjur. Namun, untuk bisa mendapatkan lisensi titik tersebut, ia diwajibkan menyetorkan uang pelicin dalam jumlah besar.

“Benar ada beberapa orang yang datang menawarkan kepada saya titik baru. Tarifnya dipatok Rp150 juta hingga Rp200 juta per titik, tergantung seberapa strategis lokasinya,” ungkap Iza, Kamis (4/6/2026).

Guna meyakinkan para calon korban, para mafia proyek ini nekat mencatut nama sejumlah pejabat teras di Badan Gizi Nasional (BGN) serta mengklaim memiliki jalur kedekatan khusus dengan lingkaran pengambil kebijakan pusat. “Setelah saya telusuri secara mandiri, mereka ternyata bukan pegawai BGN. Jika tidak hati-hati, siapa pun pasti mudah tergiur,” imbuhnya.

Pembangunan Mangkrak, Satu Korban Rugi Rp1 Miliar Lebih

Dampak destruktif dari sindikat ini dirasakan langsung oleh Elis (bukan nama sebenarnya). Ia menjadi salah satu korban penipuan yang harus kehilangan aset finansial hingga lebih dari Rp1 miliar akibat terbuai janji manis pelaku.

Bacaan Lainnya

Elis menjelaskan, dirinya tidak hanya diperas untuk membayar mahar dua titik dapur fiktif, tetapi juga diinstruksikan oleh pelaku untuk menalangi seluruh biaya konstruksi bangunan dapur fisik di lapangan. Pelaku berjanji seluruh modal pembangunan tersebut akan diganti rugi secara tunai oleh negara setelah proyek selesai 100 persen.

“Setelah uang disetorkan dan bangunan fisik dapur selesai 40 persen, orang yang menjanjikan proyek tersebut langsung menghilang tanpa jejak. Dana talangan tidak pernah diganti, uang tiket titik hangus, dan proyek akhirnya mangkrak karena modal saya sudah habis,” keluh Elis dengan nada kecewa.

Menurut Elis, korban dari jaringan penipuan berkedok pembangunan dapur MBG ini sangat masif di Cianjur. Berdasarkan jaringan komunikasinya saja, sudah ada belasan pengusaha lokal yang bernasib serupa.

Lonjakan Dapur Ilegal Picu Rebutan Penerima Manfaat

Kondisi carut-marut di lapangan ini dibenarkan oleh IS, mitra resmi dapur MBG lainnya. Menurutnya, menjamurnya praktik transaksional ini membuat jumlah sebaran dapur komunal di Cianjur melonjak drastis secara tidak terkendali tanpa menempuh prosedur perizinan administrasi yang lengkap.

“Harganya bahkan ada yang diminta Rp200 juta sampai Rp300 juta hanya untuk memesan titik. Dampaknya, banyak lokasi dapur baru yang didirikan secara ilegal dan berjarak sangat berdekatan. Akibatnya di lapangan sekarang terjadi aksi saling rebutan data anak penerima manfaat makanan gizi,” jelas IS.

Para pengusaha dan mitra resmi mendesak aparat penegak hukum serta tim Satgas BGN untuk segera turun ke lapangan guna mengusut tuntas aliran dana dan menangkap para aktor intelektual di balik sindikat jual beli titik dapur MBG ini agar tidak merusak program nasional. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *