SAMPIT, MATA-PERISTIWA.ID – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) resmi menaikkan status penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat. Status baru ini berlaku efektif selama 28 hari, terhitung mulai 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Keputusan strategis tersebut diambil usai rapat evaluasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan instansi vertikal, Rabu (29/7/2026). Hasil evaluasi mengonfirmasi bahwa indikator kondisi lapangan telah memenuhi syarat peningkatan status.
Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan antisipasi dini menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September.
“Berdasarkan kriteria yang ada, kondisinya sudah memenuhi syarat sehingga disepakati status dinaikkan dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat mulai 30 Juli 2026. Saya tadi dari pesawat melihat langsung beberapa titik asap. Karena intensitas hujan sudah hampir tidak ada, kita harus lebih siap mengantisipasi sebelum kebakaran meluas,” tegas Halikinnor, Kamis (30/7/2026).
Akses Dana BTT dan Bantuan Bencana Udara (Water Bombing)
Dengan ditetapkannya status Tanggap Darurat, Pemkab Kotim kini memiliki kewenangan dan fleksibilitas lebih luas dalam mempercepat respons pemadaman api di lapangan.
Beberapa poin krusial atas penetapan status ini meliputi:
-
Penggunaan Anggaran BTT: Pemerintah daerah dapat mencairkan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung operasional penanganan bencana.
-
Dukungan Bantuan Pusat & Provinsi: Memudahkan pengajuan bantuan armada udara seperti water bombing serta bantuan logistik kepada Pemerintah Provinsi Kalteng maupun Pemerintah Pusat.
-
Kesiapsiagaan Lintas Sektor: Pemko mengerahkan kesiapan armada pemadam, pasokan distribusi air bersih untuk warga terdampak, serta memperkuat sinergi personel gabungan.
Luas Lahan Terdampak Capai 285,54 Hektare
Data penanganan bencana terbaru mencatat luas lahan yang telah terbakar di wilayah Kotawaringin Timur mencapai 285,54 hektare. Peningkatan jumlah titik panas (hotspot) dan kepulan asap pekat semakin dipicu oleh minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Halikinnor berharap koordinasi yang makin solid dari tim gabungan dapat menekan dampak Karhutla agar tidak berkembang menjadi krisis asap yang parah.
“Harapan kita tentu bukan hanya memadamkan api, tetapi meminimalisasi dampaknya. Mudah-mudahan kondisi tidak separah yang diperkirakan, namun kita harus tetap siap menghadapi segala kemungkinan,” pungkasnya.





