BANGKOK, mata-peristiwa.id – Saat terik matahari musim panas menyengat pusat kota Bangkok dan panasnya memantul dari beton, sekelompok kecil warga mencari perlindungan di dalam “pusat pendinginan” darurat.
Pendingin udara menyala kencang di sebuah perpustakaan umum di distrik Din Daeng. Dalam beberapa pekan terakhir, sekitar 20 orang, mulai dari anak-anak hingga lansia, datang bergantian untuk berlindung dari panas jalanan.
“Cuacanya sangat panas, jadi saya mulai datang ke sini sejak awal Maret dan sekarang hampir setiap hari. Saya suka duduk dan membaca di udara yang sejuk,” ujar Jarat Soisomklang, warga setempat berusia 87 tahun.
Tak jauh dari situ, Natthawat Jaroenmuang, 12, bermain gim bersama teman-temannya. Ia mengaku datang ke sini karena rumahnya terlalu panas.
“Di rumah ada AC, tapi kami hanya menyalakannya pada malam hari,” katanya.
Menurut pemerintah kota, Bangkok mengalami setidaknya 19 hari berturut-turut dengan tingkat indeks panas “berbahaya” hingga pertengahan April.
Tempat-tempat seperti perpustakaan ini menjadi salah satu cara penting bagi kelompok rentan untuk menyikapi panas.
Saat ini, terdapat 313 lokasi yang ditetapkan sebagai pusat pendinginan di seluruh ibu kota, tersebar di sekolah, perguruan tinggi vokasi, pusat layanan kesehatan masyarakat, kantor distrik, serta titik layanan pusat kebudayaan. Selain itu, ada pula 279 titik pendinginan luar ruang berupa area teduh dengan pepohonan, air, dan tempat duduk.
Dalam sebulan terakhir, Bangkok Metropolitan Administration (BMA) menyatakan, ada lebih dari 120.000 orang yang telah memanfaatkan fasilitas ini. Lokasinya sengaja ditempatkan dekat kawasan berpenduduk padat, dan lebih dari 80 persen pengguna dapat berjalan kaki dari rumah mereka ke fasilitas tersebut.
Warga lokal maupun pengunjung didorong untuk masuk dan menyejukkan diri selama puncak musim panas Bangkok, yang biasanya berlangsung dari Maret hingga Mei.
Para ahli menyebut langkah-langkah cepat seperti ini—bersama upaya lain seperti penyediaan titik air minum, peringatan berbasis tingkat panas, serta standar keselamatan kerja bagi pekerja luar ruang—sangat krusial di kota yang suhunya memanas dengan cepat.
“BMA patut mendapat apresiasi khusus karena memandang panas sebagai risiko bencana, bukan sekadar isu lingkungan atau musiman,” ujar Peeranan Towashiraporn, Direktur Asian Disaster Preparedness Center (ADPC), lembaga nirlaba berbasis di Bangkok yang berfokus mengurangi dampak bencana dan memperkuat ketahanan di Asia dan Pasifik.
“Pusat pendinginan dan peringatan panas itu penting—keduanya menyelamatkan nyawa saat gelombang panas ekstrem, dan kami sepenuhnya mendukung perluasannya.”
Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa langkah-langkah ini baru sebagian dari respons yang dibutuhkan, seiring risiko panas yang terus meningkat.
Laporan yang dirilis bulan ini oleh ASEAN Centre for Energy (ACE), organisasi antarpemerintah regional berbasis di Jakarta yang mendukung kerja sama energi di 10 negara anggota ASEAN, menemukan bahwa panas ekstrem kian menjadi krisis struktural jangka panjang di kota-kota ASEAN.
Laporan itu memperkirakan kenaikan signifikan suhu rata-rata serta bertambahnya jumlah hari dengan panas ekstrem.
Dalam jangka panjang, kota-kota besar di kawasan ini juga berisiko menghadapi panas ekstrem sebagai kondisi yang semakin normal.
“Dampak urbanisasi yang pesat dan perubahan iklim menciptakan panas yang sangat tak tertahankan,” ujar Irma Ramadan, pejabat senior di ACE.
Bangkok berada di tingkat paparan tertinggi, baik dari sisi suhu maupun intensitasnya.
Pada 2050, kota ini diperkirakan akan mengalami hingga 120 hari panas ekstrem setiap tahun—yakni saat suhu melampaui 35°C. Angka ini hampir tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini yang sekitar 45 hari.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa suhu permukaan maksimum harian bisa mencapai 38,1°C pada pertengahan abad, naik dari 33,3°C pada tahun 2000.
Kota-kota besar lainnya berpotensi mengalami nasib serupa. Jakarta, Manila, Ho Chi Minh City, dan Kuala Lumpur diproyeksikan mengalami kenaikan suhu setidaknya 4,5°C dibandingkan tahun 2000.
Di Singapura, suhu maksimum rata-rata diperkirakan mencapai 36,1°C pada pertengahan abad, dan jumlah hari dengan suhu di atas 35°C bisa meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar 25 hari saat ini menjadi 85 hari per tahun.
Laporan itu juga mencatat gelombang panas di kawasan ini meningkat dari dua hingga tiga kejadian per tahun pada awal abad, menjadi delapan hingga 12 kejadian per tahun belakangan ini, dengan durasi tiga sampai empat pekan setiap kali terjadi.
Menurut Peeranan, pada 2050 peningkatan signifikan hari panas ekstrem berpotensi memicu darurat kesehatan masyarakat, menambah tekanan pada infrastruktur vital seperti sistem energi dan air, serta mengganggu produktivitas ekonomi—terutama bagi kelompok rentan.
“Ini adalah risiko bencana yang terus meningkat dengan dampak luas,” ujarnya. “Panas ekstrem akan mengubah cara orang hidup, bekerja, dan beraktivitas di kota.”
Karena analisis ACE hanya berfokus pada suhu, risiko sebenarnya di kota seperti Bangkok kemungkinan lebih besar, mengingat tingkat kelembapan dapat mendorong kondisi ke level yang berbahaya bagi kesehatan manusia.












