Merawat Keberagaman Nusantara: Festival 28 Bahasa di SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran Pukau Publik

PANGANDARAN, MATA-PERISTIWA.ID – Halaman SMK Bakti Karya Parigi di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mendadak berubah menjadi panggung miniatur Nusantara yang sarat warna, Rabu (28/10/2026). Batu-batu dipanaskan hingga membara untuk memasak makanan tradisional, sementara replika rumah-rumah adat berdiri kokoh berdampingan di area sekolah.

Beragam dialek dan bahasa daerah bergema silih berganti dalam ajang Festival 28 Bahasa, sebuah agenda tahunan yang dihelat untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda sekaligus merawat ruang perjumpaan bagi siswa dari berbagai latar belakang suku, etnis, dan agama di Indonesia.

Uniknya Tradisi Bakar Batu hingga Pementasan Seni Lintas Budaya

Festival tahunan ini menghadirkan ruang ekspresi budaya yang kaya. Para siswa tampak mengenakan pakaian adat dari kampung halaman masing-masing, mementaskan tarian tradisional dari Flores, Bunga Silat khas Bugis, hingga pembacaan puisi berbalut diksi daerah. Salah satu yang paling membetot perhatian adalah pembacaan puisi berjudul Cendrawasih Berbicara oleh siswa asal Papua.

Di sudut halaman, aroma khas masakan tradisional langsung menyeruak. Sejumlah siswa asal Papua tampak sibuk menyiapkan ritual memasak menggunakan tradisi bakar batu—metode memasak sakral yang lazim dipraktikkan masyarakat adat di wilayah pegunungan tengah Papua.

Siswa kelas 10 asal Mimika, Papua Tengah, Selin Jumagal, menuturkan bahwa ia bersama rekan-rekannya menyajikan hidangan autentik daerah seperti ikan kuah kuning yang dipadukan dengan papeda (makanan berbahan dasar sagu), serta merajut tas noken dari benang secara mandiri.

“Di sini kami lagi Festival 28 Bahasa dan kami lagi masak makanan adat, pakai pakaian adat, pokoknya semuanya,” kata Selin saat ditemui di lokasi kegiatan, Rabu (28/10/2026).

Selama festival berlangsung hingga malam hari, para siswa secara konsisten menggunakan bahasa ibu masing-masing, baik dalam percakapan sehari-hari maupun lewat pementasan seni.

SMK Bakti Karya Parigi: Sekolah Gratis Rumah Toleransi dan Keberagaman

Di balik kemeriahan festival tersebut, SMK Bakti Karya Parigi menyimpan misi sosial yang mulia. Sekolah ini beroperasi sebagai lembaga pendidikan gratis yang merangkul siswa-siswi dari berbagai penjuru Nusantara, etnis, dan keyakinan selama masa menempuh pendidikan tiga tahun.

Bacaan Lainnya

Didirikan sebagai bagian dari gerakan publik untuk merawat kebinekaan, sekolah ini didukung penuh oleh masyarakat sekitar. Sejak tahun 2011, program Kelas Multikultural di sekolah ini telah melibatkan sekitar 250 relawan dan kakak asuh. Saat ini, tercatat lebih dari 80 siswa dari 18 provinsi di Indonesia menimba ilmu di tempat ini.

Selain kurikulum formal, sekolah membekali siswa melalui program Kelas Profesi untuk memperluas wawasan dunia kerja serta program Splash the Peace guna mencetak agen-agen perdamaian muda di tengah masyarakat majemuk.

Bagi Selin, merantau dari Mimika, Papua Tengah, ke Pangandaran sejak empat bulan lalu memberikannya pengalaman hidup yang luar biasa. Selain bisa memperkenalkan budaya Papua kepada teman-teman dari daerah lain, ia juga berkesempatan mempelajari kebudayaan lokal Sunda.

“Di sini yang menarik bisa belajar bahasa Sunda, bisa jauh dari orang tua, bisa merantau, dan punya banyak teman dari beda-beda tempat,” pungkasnya penuh antusias.

(HD)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *