Rupiah Terpuruk Melewati Level Psikologis Rp17.600

Rupiah Terpuruk Melewati Level Psikologis Rp17.600

MATA-PERISTIWA.ID – JAKARTA | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan pekan ini. Mata uang garuda dilaporkan ambles hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.603 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026).

Terpuruknya nilai tukar rupiah ini memicu kekhawatiran meluas di kalangan pelaku pasar modal dan industri sektor riil nasional.

Berdasarkan data pasar spot finansial, pelemahan tajam rupiah didorong oleh faktor eksternal berupa meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik bersenjata yang memanas di sekitar Selat Hormuz berimbas langsung pada terganggunya jalur logistik dan pasokan minyak mentah dunia.

Kondisi tersebut memaksa investor global menarik modal mereka dari negara berkembang (emerging markets) dan mengalihkan dana ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Kenaikan harga minyak mentah global akibat krisis energi ini diprediksi akan memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia. Sebagai negara importir minyak (net oil importer), Indonesia harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, yang pada akhirnya membebani postur anggaran belanja negara.

Para analis ekonomi mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk segera mengambil langkah taktis intervensi pasar guna menahan kejatuhan rupiah yang lebih dalam.

Jika tren pelemahan ini terus berlanjut tanpa kendali, efek domino berupa inflasi barang impor (imported inflation) dikhawatirkan akan segera mengerek naik harga-harga barang pokok di tingkat masyarakat.

Bacaan Lainnya

Menanggapi situasi krusial ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus bersiaga di pasar valuta asing. BI akan mengoptimalkan instrumen moneter yang tersedia, termasuk melakukan intervensi ganda (triple intervention) di pasar spot, domestik non-deliverable forward (DNDF), hingga pasar obligasi negara demi menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *