Di bawah langit Sampit yang membara
Langkah kaki menyusuri tepian Mentaya
Bukan senjata yang kau genggam erat
Hanya pena dan nurani yang tak kenal penat
Kabut pagi atau asap yang menyesakkan dada
Tak surutkan niatmu mencari kebenaran nyata.
Dari riuh pasar hingga sunyinya belantara
Kau tuliskan kisah yang terkunci dalam suara
Tentang tanah yang luka, tentang rakyat yang merindu
Kau adalah saksi yang menolak untuk membatu.
Ooo… Jurnalis di garis depan
Di Kalimantan Tengah, kau tumpukan harapan
Meski badai mengancam, kau tetap berdiri
Membawa terang di tengah gelapnya sunyi
Pena di tanganmu, adalah pedang paling suci.
Bukan sekali ancaman datang menyapa
Mencoba bungkam kata-kata yang kau tata
Namun hatimu sekeras ulin yang tumbuh perkasa
Tak goyah oleh harta, tak tunduk oleh kuasa
Karena bagimu, berita adalah amanah
Untuk mereka yang seringkali dilupakan kasta.
Matahari terbenam di ujung muara
Kau masih mengetik, mengejar tenggat waktu
Setiap baris adalah doa dan tanda cinta
Untuk Sampit tercinta, untuk masa depan yang satu.
Ooo… Jurnalis di garis depan
Di Kalimantan Tengah, kau tumpukan harapan
Meski badai mengancam, kau tetap berdiri
Membawa terang di tengah gelapnya sunyi
Pena di tanganmu, adalah pedang paling suci.
Teruslah menulis, wahai pembawa kabar…
Hingga keadilan tak lagi menjadi barang yang sukar…
Di Sampit ini, namamu abadi dalam aksara…
Penjaga kebenaran, tanpa rasa gentar.












