MATA-PERISTIWA.ID – Manusia sering terpesona oleh gemerlap dunia. Harta diperebutkan tanpa batas, jabatan dipertahankan dengan segala cara, dan kekuasaan dijadikan simbol kemuliaan. Banyak orang rela mengorbankan kejujuran, persaudaraan, bahkan nurani demi mempertahankan apa yang dianggap sebagai kesuksesan hidup. Namun sesungguhnya, kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Cepat atau lambat, setiap manusia akan sampai pada titik akhir bernama kematian. Pada saat itu, semua yang dibanggakan akan tertinggal.
Tidak ada satu pun manusia yang mampu membawa harta ke dalam liang kubur. Rumah mewah, kendaraan mahal, rekening yang penuh, semuanya hanya menjadi milik sementara yang akan berpindah tangan. Banyak orang menghabiskan seluruh hidupnya mengejar kekayaan, tetapi lupa menikmati ketenangan batin dan kebersamaan dengan keluarga. Ironisnya, ketika ajal datang, tubuh yang dahulu dipuja hanya dibungkus kain kafan sederhana. Tidak ada lemari emas, tidak ada sertifikat tanah, tidak ada angka kekayaan yang dapat menyelamatkan seseorang dari kematian.
Begitu pula dengan jabatan dan kekuasaan. Hari ini seseorang mungkin disanjung, dihormati, dan ditakuti karena kedudukannya. Perintahnya dipatuhi, kehadirannya dimuliakan, dan namanya dielu-elukan. Akan tetapi, semua itu hanyalah titipan waktu. Sejarah telah menunjukkan bahwa banyak penguasa besar akhirnya jatuh dan dilupakan. Ketika kematian datang, seorang pejabat tinggi dan rakyat biasa sama-sama kembali menjadi tanah. Tidak ada singgasana di alam kubur, tidak ada pengawal yang menjaga, dan tidak ada kekuasaan yang mampu menunda kematian walau sedetik.
Kesadaran bahwa dunia hanyalah sementara seharusnya menjadikan manusia lebih rendah hati. Harta bukan alasan untuk sombong, jabatan bukan alat untuk menindas, dan kekuasaan bukan jalan untuk berlaku zalim. Semua yang dimiliki hanyalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Kekayaan seharusnya menjadi sarana berbagi, jabatan menjadi alat melayani, dan kekuasaan digunakan untuk menegakkan keadilan.
Kematian adalah nasihat paling jujur bagi manusia. Ia tidak memandang usia, status, ataupun kedudukan. Banyak orang sehat meninggal mendadak, sementara yang sakit justru masih diberi umur panjang. Karena itu, manusia tidak boleh terlena oleh kenikmatan dunia. Kehidupan yang terlalu berpusat pada materi sering membuat hati menjadi keras dan lupa tujuan utama hidup. Padahal, yang akan menemani manusia setelah mati bukanlah kekayaan, melainkan amal kebaikan dan jejak kemanfaatan yang ditinggalkan.
Orang yang bijaksana bukanlah orang yang memiliki segalanya, tetapi orang yang mampu menggunakan hidupnya untuk kebaikan. Ia sadar bahwa dunia hanyalah ladang ujian. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya. Semakin banyak hartanya, semakin berat pertanyaannya di akhirat. Karena itu, kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya kepemilikan, melainkan pada ketenangan hati, keikhlasan berbagi, dan keberanian hidup di jalan yang benar.
Pada akhirnya, manusia akan pulang membawa amalnya masing-masing. Nama besar akan memudar, kekuasaan akan berakhir, dan seluruh kemegahan dunia akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah nilai-nilai kebaikan yang pernah diperjuangkan. Maka ingatlah, jangan sampai hidup habis hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak akan ikut dibawa mati. Gunakan harta untuk menolong, gunakan jabatan untuk mengabdi, dan gunakan kekuasaan untuk menegakkan keadilan. Sebab ketika nafas terakhir berhenti, manusia baru menyadari bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang telah diperbuat bagi sesama dan bagi Tuhannya.












