HUT ke-9 Puan Hayati Gresik: Gelar Niti Lampah Leluhur ke Makam Bupati Pertama

GRESIK, MATA-PERISTIWA.ID – Organisasi Perempuan Penghayat Kepercayaan (Puan Hayati) Indonesia Kabupaten Gresik memiliki cara unik dan sarat makna untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke-9. Melalui kegiatan bertajuk “Niti Lampah Leluhur”, belasan anggota Puan Hayati menggelar ziarah sekaligus belajar sejarah di Kompleks Makam Kyai Tumenggung (K.T.) Poesponegoro, Minggu (31/5/2026).

Agenda ini digelar sebagai pengingat bagi generasi yang masih hidup untuk senantiasa menghormati dan meneladani rekam jejak para leluhur yang telah tiada. Selain diikuti oleh internal Puan Hayati, acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (Formagam), serta pengurus Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro.

Melacak Jejak Sejarah Bupati Pertama Gresik

Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak mendoakan K.T. Poesponegoro sebelum mendengarkan pemaparan sejarah dari pihak yayasan keluarga. Tokoh yang memiliki nama lahir Bagus Lanang Poespodiwongso ini lahir di Tandes, Gresik, pada tahun 1651, dan merupakan keturunan ke-10 dari Maharaja Majapahit, Prabu Brawijaya V.

Perjalanan karier politiknya tercatat dalam sejarah lokal secara runut:

    • Lurah Gresik: Menggantikan posisi ayahnya, Ki Kemis (Kyai Ageng Setra II).
    • Mantri Nayaka (1675–1688): Diangkat saat iparnya, R.T. Harya Naladika, menjabat sebagai Umbul Gresik.
    • Bupati Pertama (1688–1696): Diangkat oleh Raja Mataram Islam, Sunan Amangkurat II, pasca gugurnya R.T. Harya Naladika dalam misi meredam pemberontakan di Pasuruan.

Di bawah kepemimpinannya, situasi keamanan di Gresik yang semula bergejolak berhasil diredam kondusif. Berdasarkan kisah tutur yang berkembang, keberhasilan K.T. Poesponegoro dalam memadamkan kerusuhan tersebut turut dibantu oleh seorang khadam dari Negeri Ngabesah bernama Ki Buyut Klingsi.

Bacaan Lainnya

Dorongan Menguri-uri Budaya dan Eksistensi Kelompok

Ketua Puan Hayati Kabupaten Gresik, Suparni, menegaskan bahwa mengenal sejarah lokal merupakan bagian dari kewajiban moral penganut penghayat untuk menguri-uri (melestarikan) kebudayaan asli daerah.

“Nantinya, ketika berada di luar Gresik, kita bisa menceritakan bagaimana sejarah di Gresik ini kepada orang lain dan juga untuk anak cucu kita nanti. Kami sebagai Puan Hayati juga ingin menunjukkan bahwa kami bisa menyelenggarakan kegiatan positif kepada masyarakat, sudah waktunya tampil,” ungkap Suparni yang mengaku tersentuh dengan atmosfer khidmat di area makam.

Gayung bersambut, perwakilan Yayasan K.T. Poesponegoro, Raden Ngabehi Ahmad Rifai, menyambut hangat kunjungan edukatif ini. Ia menyatakan bahwa figur K.T. Poesponegoro sejak dulu dikenal sebagai penguasa yang mengayomi seluruh lapisan rakyat tanpa memandang latar belakang kepercayaan.

“Sebenarnya masih banyak masyarakat gresik yang belum tahu asal-usul mengenai Bupati Gresik pertama. Oleh karena itu, monggo masyarakat boleh datang langsung dan menyelenggarakan kegiatan di sini dengan izin resmi sekaligus belajar sejarahnya,” tutur Ahmad Rifai.

Menguatkan Keberagaman di Kota Santri

Ketua Formagam, Djoko Pratomo, turut memberikan apresiasi atas sinergi positif yang terbangun antar-lembaga tersebut. Menurutnya, langkah melakukan Niti Lampah ke situs cagar budaya sangat perlu ditonjolkan kepada generasi muda agar nilai-nilai kearifan lokal tidak punah tergerus zaman.

Djoko berharap di usia yang baru ini, Puan Hayati tidak sekadar menjadi komunitas internal, melainkan mampu mengambil peran aktif dalam merajut jalinan keberagaman umat beragama di Kabupaten Gresik. Langkah nyata kelompok minoritas dalam menghadirkan kontribusi positif dinilai menjadi bukti indah atas indahnya toleransi beragama di Indonesia. ET

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *