Ketika Pena Menjadi Pedang Opini: Menyorot Fenomena Jurnalis yang Gemar “Bicara Sendiri”

Oleh: Agus Wahyudin

MATA-PERISTIWA.ID – Dalam khazanah ilmu komunikasi, ada satu hukum tidak tertulis yang menjadi tiang pancang jurnalisme universal: “Fakta itu suci, opini itu bebas” (Facts are sacred, opinion is free). Doktrin yang dipopulerkan oleh C.P. Scott, mantan editor The Manchester Guardian, ini menggarisbawahi bahwa tugas utama seorang jurnalis adalah melaporkan peristiwa apa adanya, bukan mendikte pembaca tentang apa yang harus mereka pikirkan.

Namun, menengok lanskap media hari ini, batas suci itu kian buram. Kita semakin sering menjumpai sosok jurnalis yang tidak sekadar menjadi “penyalur lidah” narasumber atau pencatat peristiwa, melainkan bertindak sebagai komentator, hakim, bahkan tokoh utama dalam beritanya sendiri melalui selipan opini pribadi yang agresif.

Mengapa fenomena ini marak terjadi, dan apa dampaknya bagi kepercayaan publik?

Tarikan Kuat antara Jurnalisme Kebenaran dan Jurnalisme Identitas

Di era media digital yang berbasis pada klik dan atensi (attention economy), berita yang sekadar berisi “siapa, melakukan apa, di mana, dan kapan” sering kali dianggap kering dan kurang memikat. Sebaliknya, berita yang dibumbui dengan narasi personal, keberpihakan yang jelas, dan bahasa yang provokatif cenderung lebih cepat viral.

Ada beberapa faktor utama mengapa seorang jurnalis terjebak menggunakan opini sendiri dalam produk berita (hard news):

Catatan Redaksi: Ada ruang sah bagi jurnalis untuk beropini, yaitu di kolom Opini, Editorial, Tajuk Rencana, atau Esai. Namun, menyisipkan opini pribadi ke dalam lembar Hard News (berita lempang) adalah sebuah pelanggaran kode etik.

Dampak Buruk bagi Industri Media

Ketika seorang jurnalis lebih sering memakai opini sendiri dalam berita, ada harga mahal yang harus dibayar oleh industri pers secara keseluruhan:

Dampak Kerugian Penjelasan
Erosi Kepercayaan (Distrust) Pembaca yang cerdas akan menyadari adanya penggiringan opini dan mulai mempertanyakan kredibilitas seluruh isi media tersebut.
Polarisasi Masyarakat Berita yang berbasis opini cenderung memecah pembaca menjadi dua kubu ekstrem, bukan memberikan pemahaman yang jernih dan berimbang.
Kematian Objektivitas Esensi jurnalisme sebagai “anjing penjaga” (watchdog) yang netral berubah fungsi menjadi alat propaganda atau pemuas ego sektoral.

Menyaring Berita Beropini vs Berita Fakta

Sebagai pembaca di era banjir informasi, kita harus jeli membedakan mana jurnalis yang sedang melaporkan fakta dan mana yang sedang “curhat” atau berkampanye. Jurnalis yang gemar memakai opini sendiri biasanya kerap menggunakan kata-kata sifat yang menghakimi tanpa atribusi (sumber) yang jelas.

Sebagai contoh:

  • Kalimat Beropini: “Menteri X secara memalukan gagal menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers.” (Kata “memalukan” adalah penilaian subjektif jurnalis).

  • Kalimat Berbasis Fakta: “Menteri X terdiam selama sepuluh detik dan mengalihkan pembicaraan saat ditanya mengenai alokasi anggaran.” (Mempresentasikan fakta visual, biarkan pembaca yang menilai apakah itu memalukan atau tidak).

Kesimpulan: Kembali ke Khittah Jurnalisme

Menjadi jurnalis yang kritis bukan berarti menjadi jurnalis yang subjektif. Kritis diwujudkan melalui ketajaman pertanyaan, kelengkapan konfirmasi, dan kedalaman investigasi lapangan—bukan lewat untaian kalimat sinis yang lahir dari asumsi pribadi.

Tantangan pers ke depan bukan lagi sekadar adu cepat menyajikan informasi, melainkan adu jernih dalam merawat kebenaran. Dan kebenaran, selamanya tidak akan pernah membutuhkan opini sepihak dari sang penulis berita. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *