Fasilitas CT Scan Minim dan Antrean Membludak di Garut, DPRD Desak Modernisasi Alkes dan Tambah Kuota BPJS PBI

GARUT, MATA-PERISTIWA.ID – Keterbatasan fasilitas kesehatan di Kabupaten Garut kian mengancam jiwa masyarakat. Dengan populasi menembus 2,9 juta jiwa, ketersediaan alat pemeriksaan Computerized Tomography (CT) scan di rumah sakit daerah masih amat minim. Akibatnya, pasien penyakit kritis seperti stroke, tumor, hingga pendarahan otak terpaksa mengantre hingga berbulan-bulan atau dirujuk ke Bandung, Selasa (8/9/2026).

Kondisi kritis ini memicu desakan keras dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut untuk segera mengalokasikan anggaran modernisasi alat kesehatan (alkes).

“Banyak warga menghubungi saya minta dibantu percepatan pemeriksaan CT scan. Alat ini sangat vital untuk mendeteksi tumor, kelainan jantung, pendarahan otak, hingga stroke secara cepat dan akurat,” ujar Yudha Puja Turnawan, Selasa (8/9/2026).

Yudha menekankan bahwa pengadaan satu unit CT scan yang diperkirakan memakan anggaran Rp1,9 miliar hingga Rp2,5 miliar sangat krusial demi menyelamatkan nyawa warga Garut.

“Harapan saya, warga Garut punya akses CT scan yang mudah dan ditanggung BPJS. Masyarakat tidak boleh lagi dibebani harus jauh-jauh rujukan ke Bandung hanya demi satu pemeriksaan,” tegasnya.

Soroti Jamkesmas Warga Miskin Ekstrem dan Pemanfaatan CSR

Selain persoalan alkes, Yudha menyoroti belum meratanya jaminan kesehatan nasional bagi warga miskin ekstrem. Saat melakukan bakti sosial di Desa Surabaya, Kecamatan Limbangan, ia menemukan warga rentan yang belum tersentuh jaminan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Guna mengatasi persoalan anggaran kas daerah, Yudha menyodorkan solusi pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta maupun BUMD untuk menanggung premi BPJS warga miskin.

“Pemerintah daerah harus buka mata dan buka data. Warga rentan wajib dipastikan masuk BPJS PBI APBD. Jika anggaran terbatas, alokasi CSR perusahaan harus digerakkan secara masif,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, membenahi fasilitas medis dan menjamin akses pembiayaan warga adalah dua kunci utama dalam mendongkrak Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat Garut.

“Angka Harapan Hidup itu kombinasi dari kepesertaan BPJS dan modernisasi alkes. Kalau pasien harus menunggu CT scan berbulan-bulan, penanganan medis jadi terlambat. Penambahan fasilitas harus dilakukan sekarang,” pungkas Yudha.

(Irwi/Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *