CIAMIS, MATA-PERISTIWA.ID – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis bergerak cepat menangani seorang balita asal Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, yang diduga mengalami gizi buruk. Usai menerima rujukan dari Puskesmas Tambaksari, pasien langsung menjalani pemeriksaan menyeluruh pada Rabu (26/8/2026).
Balita berusia tiga tahun bernama Aef Heryadi, putra dari pasangan Tedi Kurnia dan Susilawati, tercatat hanya memiliki berat badan 9 kilogram. Angka ini berada jauh di bawah kisaran berat ideal standar WHO untuk anak laki-laki usia 3 tahun (11,3–18,3 kg) serta tercatat di bawah garis merah Kartu Menuju Sehat (KMS).
Diprioritaskan Rumah Sakit, Bebas Biaya Penanganan
Direktur RSUD Ciamis, dr. Bayu Yudiawan, menyampaikan bahwa meski masuk kategori underweight, kondisi umum balita saat tiba di rumah sakit tergolong aktif dan memiliki nafsu makan yang baik. Pihak rumah sakit menjadikan kasus ini sebagai prioritas medis untuk mencari akar penyebab gangguan pertumbuhan tersebut.
“Untuk pembiayaan dan perhatian medis sudah kita tangani penuh. Keluarga tidak usah memikirkan lagi masalah proses biaya,” ujar dr. Bayu saat ditemui di RSUD Ciamis, Rabu (26/8/2026).
Pihak RSUD Ciamis saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan organ secara holistik untuk memastikan apakah terdapat kelainan bawaan atau masalah kesehatan internal pada sang balita.
Dorong Deteksi Dini Melalui Peran Aktif Posyandu
Menanggapi ditemukannya kasus ini, dr. Bayu menekankan krusialnya deteksi dini di tingkat masyarakat. Pemantauan tumbuh kembang anak tidak boleh hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Poin penting pemantauan tumbuh kembang meliputi:
-
Keaktifan Posyandu: Rutin menimbang dan mencatat KMS balita di setiap RT/RW.
-
Kesadaran Orang Tua: Segera berkonsultasi jika berat badan anak stagnan atau berada di bawah grafik hijau.
-
Sinergi Lingkungan: Warga aktif melaporkan indikasi gangguan gizi di sekitarnya kepada kader kesehatan.
“Yang mesti kita utamakan adalah deteksi dini. Diharapkan masyarakat dan kader Posyandu ikut aktif memperhatikan tumbuh kembang anak di lingkungannya,” pungkasi dr. Bayu.




