CIMAUNG, MATA-PERISTIWA.ID – Musibah kebakaran menimpa keluarga besar jurnalis di Kabupaten Bandung. Sekretariat FORWACI (Formasi Wartawan Cimaung Indonesia) yang berlokasi di Kampung Cigeureuh, Desa Cipinang, Kecamatan Cimaung, habis dilalap api pada Kamis malam, 2 Juli 2026, sekitar pukul 22.00 WIB.
Bangunan yang selama ini menjadi pusat koordinasi (basecamp) dan tempat istirahat para jurnalis Cimaung tersebut kini rata dengan tanah.
Detik-Detik Penyelamatan Diri
Salah seorang pengurus FORWACI, Ajat Sudrajat, yang berada di lokasi kejadian menuturkan detik-detik menegangkan saat api mulai membesar. Saat kejadian, ia sedang beristirahat di dalam sekretariat.
“Tiba-tiba badan saya terasa panas. Saat terbangun sekitar pukul 22.00 WIB lebih, saya kaget karena api sudah mengelilingi tempat saya tidur. Saya langsung berusaha menyelamatkan diri keluar dari bangunan,” ujar Ajat dengan nada haru. Beruntung, Ajat berhasil lolos dari maut dan dalam kondisi selamat.
Respons Cepat Petugas dan Warga
Melihat api yang membesar, warga sekitar segera bergotong royong melakukan pemadaman manual sebelum petugas Pemadam Kebakaran tiba di lokasi. Sinergitas warga dan petugas akhirnya berhasil menjinakkan si jago merah.
Aparat keamanan dari Polsek Cimaung yang diwakili Aiptu Gunadi, bersama Babinsa Desa Cipinang, Serda Hermayana, segera hadir di lokasi untuk melakukan pengamanan dan pendataan awal. Dugaan sementara, musibah ini dipicu oleh arus pendek listrik (korsleting), namun pihak berwenang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pastinya. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil masih dalam proses pendataan.
Solidaritas dan Semangat FORWACI
Menanggapi musibah ini, Tim Redaksi ForwaciNews menyampaikan duka cita yang mendalam. “Sekretariat FORWACI adalah rumah kedua kami, tempat berkumpul dan berjuang bersama. Kami berdoa semoga Allah SWT menggantikan dengan tempat yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya,” tulis pernyataan resmi redaksi.
Meski fisik bangunan telah hancur, para jurnalis Cimaung menegaskan bahwa semangat mereka tidak ikut terbakar.
“Bangunan boleh terbakar, tapi semangat untuk menulis kebenaran, membela yang lemah, dan mencintai profesi jurnalis tidak akan pernah padam. FORWACI akan bangkit lagi,” tegas para jurnalis di lapangan.





