Sesungguhnya Jarak Kematian Itu Semakin Dekat

Oleh: Dede Farhan Aulawi

MATA- PERISTIWA.ID – Sesungguhnya jarak kematian itu bukanlah sesuatu yang jauh sebagaimana sering dibayangkan oleh manusia. Ia bukan sekadar akhir dari usia tua, bukan pula sesuatu yang hanya menghampiri mereka yang sakit. Kematian adalah kepastian yang diam-diam berjalan mendekat pada setiap detik yang berlalu. Setiap helaan napas yang terlepas, setiap pagi yang berganti senja, dan setiap langkah yang meninggalkan jejak waktu sejatinya adalah tanda bahwa manusia sedang berjalan menuju titik akhir kehidupannya di dunia.

Banyak manusia hidup seolah-olah kematian masih sangat lama. Mereka menunda taubat, menunda kebaikan, menunda meminta maaf, bahkan menunda memperbaiki diri karena merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah malam nanti masih sempat menatap langit, atau esok pagi masih sempat membuka mata. Yang sering dilupakan adalah bukan kematian yang menunggu usia tua, melainkan usia kitalah yang sedang mendekati kematian.

Setiap hari yang berlalu bukan berarti umur bertambah dalam makna sebenarnya, tetapi jatah hidup justru berkurang. Manusia sering merayakan pertambahan usia, namun sedikit yang menyadari bahwa hakikatnya umur yang tersisa semakin menipis. Waktu yang diberikan bukanlah sesuatu yang terus bertambah, melainkan amanah yang perlahan diambil kembali oleh Sang Pencipta. Maka sesungguhnya yang semakin dekat bukan hanya hari esok, tetapi juga pintu perjumpaan dengan Allah.

Bacaan Lainnya

Kematian memiliki cara yang sunyi untuk mengingatkan manusia. Rambut yang mulai memutih, tubuh yang tak sekuat dahulu, teman-teman yang satu per satu pergi mendahului, semuanya adalah pesan halus bahwa dunia ini bukan tempat tinggal yang abadi. Namun sering kali hati manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa dirinya sendiri sedang berjalan menuju liang yang sempit.

Orang yang bijak bukanlah orang yang takut berlebihan kepada kematian, tetapi orang yang sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Kesadaran itu menjadikan hidup lebih bermakna. Ia menjaga lisannya karena takut itu menjadi kata terakhirnya. Ia menjaga hatinya karena takut itu menjadi isi terakhir jiwanya. Ia memperbaiki amalnya karena sadar bahwa setiap hari bisa saja menjadi kesempatan terakhir untuk bersujud.

Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa jarak kematian semakin dekat, maka ia tidak akan terlalu mencintai dunia secara berlebihan. Ia tahu bahwa harta akan tertinggal, jabatan akan dilepaskan, pujian manusia akan hilang, dan hanya amal yang akan menemani dalam gelapnya alam kubur. Saat itu manusia mulai mengerti bahwa yang paling penting bukan seberapa lama hidup, tetapi seberapa baik ia mempersiapkan kepulangannya.

Sesungguhnya kematian bukan untuk ditakuti semata, tetapi untuk disadari. Sebab dengan menyadari dekatnya kematian, manusia akan belajar menghargai waktu, memperbaiki niat, mengikhlaskan luka, dan memperbanyak bekal menuju kehidupan yang sebenarnya. Karena pada akhirnya, yang jauh bukanlah kematian, melainkan sering kali hati manusialah yang terlalu jauh dari kesadaran akan kematian itu sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *