Oleh : Dede Farhan Aulawi
Mata-peristiwa.id – Kesulitan lahan parkir merupakan salah satu persoalan utama dalam pengelolaan destinasi wisata, terutama ketika jumlah pengunjung meningkat pada akhir pekan, musim liburan, dan hari besar. Keterbatasan lahan yang tidak diimbangi dengan pengelolaan transportasi yang baik dapat menimbulkan kemacetan, mengurangi kenyamanan wisatawan, serta mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Teknik mengatasinya perlu dilakukan melalui pendekatan manajemen parkir terpadu, rekayasa lalu lintas, dan pemanfaatan teknologi. Pertama, pengelola dapat mengoptimalkan lahan yang tersedia melalui penataan parkir yang efisien, penerapan parkir bertingkat apabila layak, serta pemanfaatan lahan alternatif yang tidak mengganggu lingkungan. Kedua, sistem parkir terpusat di luar kawasan inti wisata dapat diterapkan dengan menyediakan layanan shuttle bus atau kendaraan pengumpan untuk mengangkut pengunjung menuju lokasi tujuan.
Ketiga, teknologi digital dapat digunakan untuk menampilkan informasi ketersediaan ruang parkir secara real-time, mengarahkan kendaraan ke lokasi yang masih tersedia, serta menerapkan reservasi parkir pada periode kunjungan padat. Keempat, pengelola perlu mengatur arus masuk dan keluar kendaraan, menerapkan tarif parkir progresif secara proporsional, serta mendorong penggunaan transportasi umum, sepeda, dan kendaraan bersama. Kelima, kerja sama dengan masyarakat dan pelaku usaha setempat dapat dilakukan untuk memanfaatkan lahan parkir tambahan melalui sistem perizinan dan standar keselamatan yang jelas.
Keempat, kemitraan strategis dengan pemilik lahan yang berada di sekitar area wisata. Pengunjung bayar parker ke pemilik lahan, jadi setelah menurunkan pengunjung mobil bisa diarahkan ke area parker yang memiliki Kerjasama dengan pengelola destinasi wisata.
Pada akhirnya, solusi kesulitan parkir tidak selalu harus dilakukan dengan memperluas lahan, karena pembangunan area parkir yang berlebihan dapat mengurangi ruang hijau dan merusak daya tarik alam destinasi wisata. Kunci keberhasilannya adalah mengelola pergerakan pengunjung secara cerdas, bukan sekadar menampung sebanyak mungkin kendaraan. Dengan perencanaan yang terintegrasi, destinasi wisata dapat menjadi lebih tertib, nyaman, aman, dan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan serta kesejahteraan masyarakat setempat
( Dede Farhan Aulawi )




