GRESIK, MATA-PERISTIWA.ID – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta kompleksitas tekanan mental pada remaja masih menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik. Berdasarkan data terbaru, kelompok anak menempati porsi tertinggi sebagai korban kekerasan di wilayah tersebut.
Sebagai respons nyata, Pemkab Gresik melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) telah menyiapkan sistem perlindungan terintegrasi guna memastikan para korban mendapatkan pemulihan holistik dan ruang aman untuk bersuara.
Data Kasus dan Fenomena “Gunung Es” yang Mulai Pecah
Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik, Titik Ernawati, memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025, layanan yang ditangani Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) mencapai 638 kasus, di mana 541 di antaranya merupakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sementara itu, tren di tahun 2026 menunjukkan angka yang masih signifikan. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, tercatat ada 168 kasus yang ditangani, dengan 59,3 persen korbannya adalah anak-anak.
Bentuk kekerasan yang muncul pun makin beragam, mulai dari Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), tawuran, Kekerasan Dalam Rumah Tahu (KDRT), kekerasan seksual, hingga perundungan siber (cyberbullying). Kendati demikian, Titik menilai tingginya angka laporan ini tidak serta-merta menunjukkan kondisi sosial Gresik memburuk.
“Ini menunjukkan bahwa kita sebagai pemerintah Kabupaten Gresik berhasil mengedukasi masyarakat agar menjadi 2P, yakni pelapor dan pelopor. Lapor bukan berarti gagal. Lapor bukan berarti lemah, tapi lapor adalah menunjukkan kita kuat,” ujar Titik saat menjadi narasumber talkshow di Radio Suara Surabaya, Selasa (2/6/2026).
Layanan Integrasi UPT PPA dan Fasilitas Rumah Aman
Untuk memberikan kepastian perlindungan, Pemkab Gresik memaksimalkan peran UPT PPA dengan menyediakan berbagai penanganan dari hulu ke hilir. Layanan tersebut meliputi:
-
- Akses Pengaduan & Penjangkauan: Perluasan jaringan pengaduan melalui Call Center 112, layanan WhatsApp, balai penyuluh KB, hingga organisasi mitra di tingkat kecamatan.
- Pendampingan & Pemulihan: Pendampingan psikologis, bantuan hukum gratis, layanan medis, mediasi, hingga rehabilitasi sosial.
- Fasilitas Shelter (Rumah Aman): Penyediaan tempat perlindungan khusus bagi perempuan dan anak korban kekerasan maupun saksi yang berada dalam situasi berbahaya.
- Pemberdayaan Ekonomi: Pelatihan kemandirian ekonomi bagi para penyintas pasca-trauma.
Menyoroti Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Di sisi lain, tekanan psikologis pada remaja masa kini dinilai jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Nur Khumaidatuz Zahroh, Psikolog Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik, menjelaskan bahwa paparan media sosial memicu remaja untuk sering membandingkan diri secara tidak sehat, sehingga rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan krisis rasa percaya diri.
Ancaman cyberbullying berupa ejekan penampilan hingga pengucilan verbal juga menjadi faktor utama penurunan kesehatan mental anak. Nur mengingatkan orang tua untuk peka terhadap gejala psikologis yang sering kali bermanifestasi ke dalam keluhan fisik (psikosomatis).
“Anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi lebih pendiam, mudah gelisah, gampang tersinggung, sering sedih, atau mengeluh nyeri perut dan nyeri dada tanpa sebab medis yang jelas, itu menjadi tanda yang perlu diperhatikan,” jelas Nur Khumaidatuz.
Ia menyarankan agar orang tua konsisten menyediakan waktu untuk mengobrol dari hati ke hati dengan anak, memosisikan diri sebagai pendengar yang baik tanpa langsung menghakimi atau sekadar memberi nasihat.
KIDTION 2026: Edukasi Kreatif Lewat Kompetisi Film Pendek
Sebagai langkah preventif sekaligus wadah partisipasi anak, Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik bekerja sama dengan Forum Anak Gresik menggelar Kompetisi Film Pendek KIDTION 2026. Ajang gratis ini ditujukan bagi pelajar SMP sederajat (usia 12-15 tahun) di Kabupaten Gresik untuk menyuarakan isu perlindungan anak dan kesehatan mental secara kreatif.
Pendaftaran kompetisi dalam tim (3-5 orang) ini telah sukses dilaksanakan pada 18 Mei hingga 1 Juni 2026. Selanjutnya, panitia akan menggelar technical meeting pada 3 Juni 2026, dengan batas akhir pengumpulan karya pada 20 Juni 2026.
Setiap tim diwajibkan memilih satu dari tiga subtema krusial, yaitu:
-
- Anak sebagai Agen Kesehatan Mental
- Pencegahan Perkawinan Anak
- Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)
Melalui sinergi layanan pengaduan yang masif dan ruang kreativitas seperti KIDTION 2026, Pemkab Gresik menegaskan pesan utama bahwa kekerasan maupun masalah kesehatan mental bukanlah aib pribadi yang harus ditutup rapat, melainkan tanggung jawab bersama yang harus segera ditangani dan dipulihkan.
Penjelasan dan Analisis Konseptual
Berikut adalah analisis mendalam terkait strategi tata kelola perlindungan anak di Kabupaten Gresik:
1. Pergeseran Paradigma Masyarakat: Dari Tabu Menjadi Berani (Speak Up)
Secara sosiologis, kasus kekerasan domestik dan kekerasan terhadap anak sering kali terjebak dalam fenomena gunung es (iceberg phenomenon), di mana angka yang tidak dilaporkan jauh lebih besar karena adanya stigma “aib keluarga”. Keberhasilan Dinas KBPPPA Gresik dalam mendorong masyarakat menjadi pelapor dan pelopor (2P) menunjukkan adanya peningkatan trust (kepercayaan) publik terhadap kinerja institusi perlindungan anak daerah.
2. Tantangan Psikosomatis dan KBGO di Era Siber
Hadirnya subtema Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan pembahasan cyberbullying dalam program pemerintah menunjukkan adaptasi regulasi yang responsif terhadap zaman. Remaja saat ini tidak hanya menghadapi ancaman fisik, melainkan serangan digital yang merusak kesehatan mental mereka. Deteksi dini gejala psikosomatis (sakit fisik akibat tekanan mental) menjadi kompetensi baru yang wajib diinternalisasi oleh orang tua di rumah.
3. Metode Pendekatan Teman Sebaya (Peer-to-Peer Engagement)
Melalui kompetisi film pendek KIDTION 2026 yang menggandeng Forum Anak Gresik, pemerintah menggunakan strategi komunikasi edukasi yang persuasif. Dibandingkan dengan sosialisasi formal yang kaku, pelibatan anak-anak untuk membuat konten audio-visual tentang kesehatan mental dan KBGO akan jauh lebih efektif. Hal ini karena pesan tersebut disampaikan oleh teman sebaya (peer group) dengan bahasa yang lebih universal dan mudah dipahami oleh generasi muda.
***ET***










