GRESIK ,mata-peristiwa.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik meluncurkan SIPEDAS (Sistem Informasi Penyelidikan Epidemiologi DBD Terintegrasi) sebagai inovasi digital untuk mempercepat penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Aplikasi berbasis web ini dirancang untuk memangkas waktu pelaporan kasus sekaligus mempercepat pelaksanaan penyelidikan epidemiologi (PE), sehingga langkah pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Mukhibatul Khusnah, M.M., M.Kes., menjelaskan bahwa ” Inovasi tersebut lahir sebagai respons atas masih tingginya angka kasus DBD di Indonesia maupun Jawa Timur.
” Pada tahun 2024, Jawa Timur mencatat lebih dari 32 ribu kasus DBD dengan 265 kematian, sedangkan Kabupaten Gresik mencatat 488 kasus. Hingga Agustus 2025, di Gresik telah dilaporkan 343 kasus dengan dua korban meninggal dunia.” ujarnya.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian DBD selama ini adalah lambatnya pelaksanaan penyelidikan epidemiologi. Dari 343 kasus yang terjadi pada 2025, hanya sekitar 38 persen yang berhasil ditindaklanjuti dalam waktu kurang dari 24 jam, sementara sebagian besar baru dilakukan setelah lebih dari dua hari sejak laporan diterima.
Keterlambatan tersebut berpotensi memperluas penyebaran penyakit, menghambat pemberantasan sarang nyamuk, meningkatkan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB), hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Melalui SIPEDAS, proses pelaporan kini berlangsung lebih cepat dan terintegrasi. Saat pasien dengan dugaan DBD datang ke Unit Gawat Darurat (UGD), petugas kesehatan langsung memasukkan data ke dalam sistem.
Informasi tersebut otomatis diterima oleh Penanggung Jawab DBD di Dinas Kesehatan dan diteruskan kepada Penanggung Jawab DBD di Puskesmas sesuai domisili pasien.
Selanjutnya, petugas Puskesmas bersama kader kesehatan dan tokoh masyarakat segera melakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi pasien untuk menentukan langkah penanganan, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk (PSN), larvasidasi, edukasi masyarakat, hingga tindakan pengendalian lainnya berdasarkan hasil investigasi.
Tak hanya mempercepat respons lapangan, SIPEDAS juga mengintegrasikan seluruh data hasil penyelidikan epidemiologi dalam satu sistem yang dapat dipantau secara real time.
Data tersebut menjadi dasar pemetaan wilayah endemis DBD dan mendukung pengambilan kebijakan pengendalian penyakit yang lebih efektif.
Inovasi ini menjadi bagian dari transformasi digital pelayanan kesehatan di Kabupaten Gresik sekaligus mendukung program Nawakarsa Gresik Sehati, yang berorientasi pada pelayanan kesehatan cepat, responsif, dan berbasis teknologi.
Hasil uji coba menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada periode Oktober–November 2025, sebanyak 55,5 persen kasus DBD berhasil ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi tepat waktu, meningkat dibandingkan sebelum penerapan SIPEDAS yang hanya 38 persen.
Pada tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik menargetkan capaian tersebut meningkat hingga 70 persen.
Melalui SIPEDAS, Pemerintah Kabupaten Gresik berharap penanganan kasus DBD semakin cepat, rantai penularan dapat diputus lebih dini, serta angka kesakitan dan kematian akibat DBD terus menurun.
Inovasi ini menjadi bukti komitmen Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dalam menghadirkan pelayanan publik yang inovatif, efektif, dan mengutamakan keselamatan masyarakat.(Et)





