Sepasang Sandal yang Tak Pernah Mengeluh

Oleh : Dede Farhan Aulawi

MATA-PERISTIWA.ID – Hujan turun sejak dini hari. Atap rumah dari seng berkarat itu kembali bocor di sana-sini. Tetesan air jatuh ke lantai tanah yang mulai becek. Di sudut ruangan, Aminah meletakkan ember bekas cat untuk menampung air yang menetes tanpa henti.

“Bu, nanti aku berangkat sekolah pakai sepatu apa?” tanya Raka, anak laki-lakinya yang baru duduk di kelas lima SD.

Aminah terdiam. Sepatu Raka sudah rusak sejak dua bulan lalu. Solnya terlepas, kainnya robek, dan setiap hujan air dengan mudah masuk membasahi kaki. Selama ini Raka hanya mengikatnya dengan tali rafia agar tetap bisa dipakai.

Aminah tersenyum, meski hatinya terasa diremas.

“Nanti Ibu jahit lagi, ya. Masih bisa dipakai.”

Padahal ia tahu, sepatu itu sudah tidak layak disebut sepatu.

Sejak suaminya meninggal karena kecelakaan kerja di proyek bangunan, Aminah menjadi tulang punggung keluarga. Setiap pagi ia mencuci pakaian tetangga, siang hari menjajakan gorengan keliling kampung, malamnya masih harus menyetrika pakaian orang lain. Semua itu hanya menghasilkan uang yang cukup untuk membeli beras, sedikit sayur, dan membayar listrik seadanya.

Bacaan Lainnya

Tidak ada yang tersisa.

Bahkan untuk membeli sepasang sepatu murah pun terasa seperti mimpi.

Namun, Raka tidak pernah mengeluh.

Ia berjalan hampir lima kilometer menuju sekolah setiap hari dengan sandal jepit yang sudah tipis jika hujan datang. Ketika teman-temannya membawa bekal ayam goreng, ia hanya membawa nasi dengan garam atau kadang nasi dan kecap.

Saat jam istirahat, ia pura-pura bermain agar tidak ada yang melihat bekalnya.

Malam hari, Raka belajar di bawah lampu lima watt yang cahayanya redup. Ia sering berkata kepada ibunya, “Bu, nanti kalau aku besar, Ibu tidak boleh capek lagi.”

Aminah hanya mengangguk sambil menyembunyikan air mata.

Suatu sore, hujan turun sangat deras. Aminah tetap memikul keranjang gorengan karena jika tidak berjualan, mereka tidak akan makan malam.

Orang-orang memilih berteduh. Tak ada yang membeli.

Saat hendak pulang, ia terpeleset di jalan licin. Gorengan yang belum laku berserakan masuk ke selokan.

Aminah terduduk.

Tangannya terluka.

Lututnya berdarah.

Namun yang lebih sakit adalah melihat dagangannya hanyut bersama air hujan.

Malam itu ia pulang dengan tangan kosong.

Di rumah, Raka menyambutnya sambil tersenyum.

“Ibu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana itu membuat pertahanan Aminah runtuh. Ia menangis untuk pertama kalinya di depan anaknya.

“Maafkan Ibu… hari ini kita hanya punya nasi.”

Raka memeluk ibunya erat.

“Kalau sama Ibu, nasi saja sudah enak.”

Mereka makan berdua.

Satu piring nasi dibagi dua.

Tanpa lauk.

Tanpa keluhan.

Hanya ada kasih sayang yang membuat rasa lapar terasa sedikit lebih ringan.

Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan lomba menulis tentang cita-cita.

Raka menulis sederhana.

“Aku tidak ingin menjadi orang kaya agar dipuji banyak orang. Aku hanya ingin menjadi orang yang mampu membelikan ibu sebuah rumah yang tidak bocor ketika hujan. Aku ingin ibu tidur tanpa takut besok tidak bisa makan. Aku ingin ibu berhenti menangis saat berpikir aku sedang tidur.”

Tulisan itu memenangkan lomba tingkat kabupaten.

Saat dipanggil ke atas panggung, guru membacakan isi karangannya.

Ruangan menjadi sunyi.

Banyak yang menundukkan kepala.

Sebagian menyeka air mata.

Di sudut aula, Aminah berdiri dengan pakaian paling sederhana di antara semua orang tua murid. Ia memakai kerudung yang warnanya telah pudar dan sandal yang talinya dijahit berkali-kali.

Ketika Raka menerima piala, ia tidak mengangkatnya tinggi-tinggi.

Ia justru turun dari panggung, menghampiri ibunya, lalu menyerahkan piala itu.

“Ini untuk Ibu.”

Aminah memeluk anaknya sekuat tenaga.

Tangisnya pecah.

Bukan karena piala.

Bukan karena hadiah.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berjuang, ia merasa semua lelahnya tidak sia-sia.

Bertahun-tahun kemudian, Raka benar-benar berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan beasiswa. Ia mendapatkan pekerjaan yang baik dan membawa ibunya tinggal di rumah kecil yang sederhana, tetapi hangat dan tidak lagi bocor saat hujan.

Suatu malam hujan turun sangat deras.

Raka melihat ibunya duduk di teras memandangi langit.

“Ibu kenapa?”

Aminah tersenyum sambil meneteskan air mata.

“Ibu cuma sedang mendengarkan suara hujan.”

“Memangnya kenapa?”

“Dulu, setiap hujan datang, Ibu takut karena rumah kita bocor, dagangan tidak laku, dan besok kita mungkin tidak makan. Sekarang… hujan hanya tinggal hujan.”

Raka menggenggam tangan ibunya.

Ia baru menyadari bahwa kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki uang, tetapi tentang begitu banyak ketakutan yang harus dipikul setiap hari.

Dan orang-orang miskin bukanlah mereka yang malas berjuang.

Sering kali mereka adalah orang-orang yang bekerja paling keras, tetapi menerima hasil paling sedikit.

Di balik setiap senyum mereka, ada luka yang disembunyikan agar orang-orang tercinta tetap memiliki harapan. Dan di balik setiap tetes air mata yang jatuh diam-diam, tersimpan doa yang tak pernah berhenti, “semoga anak-anak mereka tidak lagi mewarisi kemiskinan, melainkan kesempatan untuk hidup yang lebih baik “.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *