CIAMIS, MATA-PERISTIWA.ID – Euforia final Piala Dunia 2026 benar-benar menyelimuti Jawa Barat, Senin (20/7/2026). Di berbagai sudut daerah, mulai dari Alun-alun Ciamis hingga Alun-alun Parigi di Pangandaran, ribuan warga memadati ruang publik untuk menyaksikan laga puncak melalui layar lebar.
Namun, di balik riuh rendah sorak-sorai penonton, gelaran nonton bareng (nobar) ini sesungguhnya adalah strategi besar pemerintah untuk memutar roda ekonomi rakyat.
Membaca Arahan Pusat: Nobar sebagai Penggerak UMKM
Fenomena nobar massal ini bukanlah kebetulan. Berdasarkan Surat Edaran Mendagri Nomor 400.2.7/4657/SJ, Mendagri Muhammad Tito Karnavian menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk memfasilitasi nobar di ruang publik strategis.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menegaskan bahwa esensi dari arahan tersebut melampaui sekadar hiburan olahraga. “Nobar adalah ruang interaksi sosial sekaligus peluang ekonomi. Kami ingin kegiatan ini melibatkan perangkat daerah, komunitas lokal, dan yang terpenting adalah para pelaku UMKM agar ekonomi di akar rumput ikut bergerak,” jelasnya.
Implementasi di Daerah: Ciamis dan Pangandaran
Tindak lanjut arahan ini terlihat jelas di lapangan:
-
Kabupaten Ciamis: Antusiasme warga memuncak di Alun-alun Ciamis. Layar raksasa yang dipasang sejak babak semifinal tetap dipertahankan untuk memfasilitasi kebutuhan warga hingga babak final.
-
Kabupaten Pangandaran: Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, memusatkan nobar di Alun-alun Parigi. Tak hanya sekadar nonton, panitia menyiapkan berbagai doorprize menarik, mulai dari sepeda listrik hingga peralatan elektronik, sebagai daya tarik bagi warga.
Strategi Pemprov Jabar
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, di bawah arahan Gubernur Dedi Mulyadi, merespons kebijakan ini dengan serius. Nobar difokuskan pada fase semifinal dan final untuk memaksimalkan animo masyarakat.
“Sepak bola adalah pintu masuk. Dengan menghadirkan massa di ruang publik seperti alun-alun atau stadion, kita secara otomatis menciptakan pasar bagi UMKM. Ini adalah strategi kolaboratif untuk memperkuat interaksi sosial sekaligus menstimulasi perputaran ekonomi lokal,” ujar Gubernur Dedi Mulyadi.
Dampak Nyata untuk Rakyat
Bagi pemerintah daerah, sepak bola kini bukan lagi sekadar tontonan, melainkan instrumen pembangunan ekonomi kreatif. Kehadiran masyarakat di ruang publik saat nobar menjadi ajang “panen” bagi pedagang kaki lima dan pengusaha kecil di sekitar lokasi.
Dengan mengintegrasikan momentum Piala Dunia 2026 ke dalam agenda publik, pemerintah berharap semangat kebersamaan ini tidak hanya meninggalkan memori juara bagi pecinta sepak bola, tetapi juga menyisakan dampak positif bagi ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat lokal. (HD)





