GRESIK, mata-peristiwa.id – Di balik deretan berita utama yang menghiasi layar ponsel kita, ada ribuan jurnalis perempuan yang setiap harinya menjalani peran ganda dengan penuh risiko. Bagi mereka, jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan medan perjuangan untuk menyuarakan kebenaran sembari mendobrak stigma gender yang masih kental.
Sebut saja Etik Atthiyah, seorang jurnalis investigasi di salah satu media daring nasional Mata-peristiwa.id kaperewil Jawa Timur. Di lapangan, ia dikenal sebagai sosok yang tanpa kompromi saat mengejar narasumber di tengah aksi massa atau menelusuri kasus-kasus sensitif. Namun, saat gawai di sakunya bergetar menampilkan pesan dari pengasuh anaknya, wajah tegasnya seketika melunak.
Menembus Barikade dan Stigma
Perjuangan jurnalis perempuan sering kali lebih terjal dibandingkan rekan pria mereka. Di lapangan, mereka tak jarang menghadapi intimidasi fisik hingga pelecehan seksual, baik secara langsung maupun melalui serangan siber di kolom komentar atau media sosial.
“Menjadi perempuan di tengah liputan konflik atau demonstrasi besar punya tantangan tersendiri. Kami harus waspada ganda—waspada terhadap situasi keamanan dan waspada terhadap keselamatan diri sebagai perempuan,” ungkap Etik.
Data dari berbagai organisasi pers menunjukkan bahwa jurnalis perempuan lebih rentan mengalami serangan digital berupa doxing (penyebaran data pribadi) atau perundungan yang menyasar sisi personal. Meski demikian, semangat mereka tak surut.
Bagi Etik, perspektif perempuan sangat krusial dalam pemberitaan agar masalah-masalah seperti ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap anak tidak luput dari perhatian publik.
Dilema “Dapur” dan Tenggat Waktu
Di sisi lain, jurnalis perempuan sering kali terjebak dalam tuntutan peran domestik. Saat tuntutan berita menuntut mereka untuk terjaga hingga dini hari demi update terkini, ada tanggung jawab sebagai ibu atau istri yang menanti di rumah.
Banyak jurnalis perempuan yang harus melakukan wawancara penting melalui telepon sambil menggendong balita, atau mengetik naskah di tengah perjalanan pulang demi bisa segera menemani anak belajar.
“Perjuangannya adalah bagaimana tetap profesional tanpa merasa bersalah karena melewatkan momen bersama keluarga,” tambah Etik.
Integritas dan Kepekaan Nurani
Kekuatan jurnalis perempuan sering kali terletak pada empati dan kedalaman rasa saat menulis. Mereka mampu menggali sisi humanis yang paling dalam dari sebuah peristiwa bencana atau tragedi kemanusiaan. Sensitivitas inilah yang membuat berita online tidak sekadar menjadi deretan data, melainkan cerita yang mampu menggerakkan hati pembaca.
Dukungan terhadap jurnalis perempuan kini terus menguat, mulai dari kebijakan ruang redaksi yang lebih inklusif hingga adanya komunitas perlindungan bagi pekerja pers perempuan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa suara mereka tidak bungkam oleh rasa takut maupun beban ganda.
Menjaga Nyala di Era Digital
Kisah Etik adalah representasi dari kegigihan perempuan yang menolak untuk menyerah pada keadaan. Di tengah gempuran arus informasi digital yang serba cepat, ia tetap memilih untuk berdiri tegak di garis depan.
Bagi mereka, keberhasilan bukan hanya saat berita mereka dibaca jutaan orang, melainkan ketika mereka bisa pulang ke rumah dengan kepala tegak, membuktikan kepada anak-anak mereka bahwa seorang perempuan bisa menjadi penjaga kebenaran bagi dunia tanpa harus kehilangan kasih sayang bagi keluarga.
Penulis: Etik Atthiyah (Etik atau ET)


