Oleh: Dede Farhan Aulawi
Di depan gerbang sebuah gedung megah, seorang perempuan tua berdiri dengan tubuh yang mulai membungkuk. Wajahnya dipenuhi keriput, tangannya menggenggam kantong plastik berisi beberapa potong kue basah yang dibuatnya sendiri sejak dini hari.
Namanya Aminah.
Hari itu adalah hari yang paling ia tunggu. Putranya, Arga, baru saja diangkat menjadi direktur termuda di sebuah perusahaan besar. Selama bertahun-tahun, Aminah hanya melihat wajah anaknya melalui foto-foto di media sosial yang dikirimkan tetangga. Arga jarang pulang. Nomor telepon ibunya sudah lama tak pernah dihubungi.
Namun, seorang ibu tidak pernah berhenti merindukan anaknya.
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat,” gumam Aminah sambil tersenyum.
Satpam memandang pakaian lusuhnya.
“Ibu mau bertemu siapa?”
“Pak Arga… bilang saja ibunya datang.”
Satpam mengangguk dan masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian Arga keluar bersama beberapa tamu penting dan wartawan. Jas hitamnya rapi, sepatu kulitnya mengilap, dan senyumnya penuh percaya diri.
Tatapan mereka bertemu.
Mata Aminah berbinar.
“Ga… Nak…”
Ia melangkah mendekat.
Namun sebelum sempat memeluk, Arga justru berhenti.
Wajahnya berubah.
Ia melirik rekan-rekan kerjanya yang sedang memperhatikan.
Dengan suara dingin ia berkata,
“Maaf, Bu… Ibu salah orang.”
Kalimat itu menghantam hati Aminah lebih tajam daripada pisau.
“Tapi… Nak… ini Ibu…”
Arga menggeleng pelan.
“Saya tidak kenal Ibu.”
Semua orang terdiam.
Aminah menggenggam kantong plastik itu semakin erat hingga plastiknya berkerut.
“Tapi… yang menjual sawah… supaya kamu bisa kuliah…”
Arga mulai gelisah.
“Satpam, tolong antar ibu ini keluar.”
Saat dua satpam menghampiri, Aminah tidak melawan.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Maaf ya, Nak… mungkin Ibu memang salah orang.”
Ia berbalik.
Tak ada air mata yang jatuh saat itu.
Karena rasa sakitnya terlalu dalam untuk ditangisi.
Malamnya, Arga menghadiri pesta perayaan.
Semua orang memujinya.
“Hebat sekali, Pak Arga.”
“Orang tua Bapak pasti bangga.”
Arga hanya tersenyum hambar.
Namun setiap kali gelas diangkat, wajah ibunya terus muncul dalam ingatannya.
Terlintas kembali masa kecilnya.
Ibunya menggendongnya puluhan kilometer menuju puskesmas saat ia demam tinggi.
Ibunya tidak makan agar ia bisa membawa bekal ke sekolah.
Ibunya menjual cincin perkawinan peninggalan almarhum ayah demi membayar uang kuliah semester pertama.
Saat wisuda, Aminah hanya melihat dari luar pagar kampus karena tidak mampu membeli tiket masuk.
Ia pulang sambil berkata kepada tetangganya,
“Tak apa. Yang penting anakku sudah jadi sarjana.”
Arga memejamkan mata.
Dadanya mulai sesak.
Tiga hari kemudian Arga memberanikan diri pulang ke kampung.
Rumah kecil itu sunyi.
Pintunya terbuka.
Tetangga menyambutnya dengan mata sembab.
“Kamu baru datang?”
“Iya… Ibu di mana?”
Tetangga itu menangis.
“Ibumu sudah meninggal tadi subuh.”
Dunia Arga runtuh.
Ia berlari ke dalam rumah.
Di atas tikar sederhana terbujur tubuh Aminah yang telah diselimuti kain putih.
Wajahnya damai.
Seolah semua luka telah selesai.
Arga memeluk jenazah ibunya.
“Ibu… maafkan Arga… Ibu… bangun, Bu… Arga pulang…”
Tak ada jawaban.
Yang terdengar hanya isak tangisnya sendiri.
Di samping bantal terdapat sebuah amplop lusuh.
Tulisan tangan yang mulai pudar berbunyi:
“Untuk anakku Arga.”
Dengan tangan gemetar ia membuka surat itu.
“Nak…
Kalau suatu hari Ibu datang dan membuatmu malu, jangan marahi diri sendiri.
Ibu mengerti.
Dunia orang sukses memang berbeda dengan dunia orang miskin seperti Ibu.
Ibu hanya ingin melihatmu sekali lagi sebelum Allah memanggil Ibu.
Jangan sedih.
Ibu tidak pernah marah.
Sejak kamu lahir, tugas Ibu hanyalah mencintaimu.
Bahkan ketika kamu lupa bahwa Ibu pernah menjadi seluruh duniamu.”
Surat itu basah oleh air mata Arga.
Ia menjerit sekeras-kerasnya.
Tetapi penyesalan selalu datang ketika kesempatan telah pergi.
Beberapa bulan kemudian, Arga membangun sebuah rumah yatim di kampungnya.
Di gerbangnya tertulis sebuah kalimat sederhana:
“Jangan pernah malu mengakui orang tuamu, karena sebelum dunia mengenal namamu, merekalah yang pertama kali memanggilmu dengan penuh cinta.”
Setiap pagi Arga datang membawa bunga ke makam Aminah.
Ia duduk berjam-jam.
Berbicara seperti anak kecil.
Namun tidak ada lagi tangan yang mengusap rambutnya.
Tidak ada lagi suara lembut yang berkata,
“Nak… makan dulu.”
Yang tersisa hanyalah gundukan tanah, nisan sederhana, dan penyesalan yang akan menemaninya hingga akhir hayat.
Karena ada satu kalimat yang tidak pernah bisa ditarik kembali:
“Saya tidak kenal Ibu.”
Dan ada satu hati yang tetap memaafkan, bahkan setelah berhenti berdetak.
Itulah hati seorang ibu.





