Bandung – Di sebuah rumah kontrakan sederhana di RT 3 RW 1 Pasir Endah, Ujungberung Kota Bandung, suasana siang itu terasa berbeda. Tangis haru tak terbendung dari mata Ibu Nuryani, seorang ibu yang harus mengasuh delapan anak seorang diri. Kamis, 19 Maret 2026, menjadi hari yang tak akan mudah ia lupakan.
Di tengah keterbatasan hidup yang ia jalani, langkah Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, membawa secercah harapan yang selama ini terasa jauh. Tangannya gemetar saat menerima bingkisan bantuan. Air matanya terus mengalir, seolah menjadi bahasa paling jujur atas rasa syukur dan beban hidup yang ia pikul selama ini.
“Alhamdulillah,” ucapnya lirih di awal pertemuan, menahan haru.
Rumah kontrakan dua kamar itu menjadi tempat bernaung bagi banyak jiwa. Anak-anaknya dengan usia beragam, dari yang masih balita hingga remaja, hidup berhimpitan dalam ruang yang terbatas. Di sanalah mereka tumbuh, berbagi cerita, dan bertahan di tengah keadaan yang tak mudah.
Farhan menyapa satu per satu anak-anak Nuryani. Ia bertanya tentang sekolah, tentang keseharian mereka, dan bagaimana sang ibu memenuhi kebutuhan hidup. Dari percakapan itu terungkap, lima anaknya masih bersekolah, sementara tiga lainnya belum.
“Ibu ini luar biasa. Di tengah kondisi seperti ini, tetap berusaha menyekolahkan anak-anaknya,” ujar Farhan saat berbincang dengan Nuryani.
Di tengah keterbatasan, Nuryani tetap berusaha menyekolahkan anak-anaknya. Namun, biaya hidup dan pendidikan kerap menjadi beban yang nyaris tak tertanggungkan.
Bantuan pun mulai berdatangan. Paket sembako, perlengkapan mandi, selimut, hingga seragam sekolah diserahkan. Anak-anak tampak antusias, ikut membantu mengangkat barang-barang yang datang. Di balik wajah polos mereka, tersimpan semangat untuk tetap bertahan.
Farhan pun memastikan bantuan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan keluarga tersebut.
“Yang penting kita mesti menyelamatkan Ibu dan anak-anak ini,” tegasnya.
Namun bukan hanya bantuan kebutuhan sehari-hari yang diberikan. Harapan baru hadir dalam bentuk dukungan pendidikan. Pemerintah Kota Bandung bersama Bank BJB memberikan bantuan biaya sekolah sebesar Rp500.000 per bulan selama satu tahun untuk membantu kebutuhan pendidikan anak-anak Nuryani.
“Untuk bantuan biaya sekolah anak-anak, sekadar ongkos ya. Ibu dapat Rp500.000 per bulan selama satu tahun,” kata Farhan.
Bagi Nuryani, bantuan itu bukan sekadar angka. Itu adalah peluang bagi anak-anaknya untuk terus melangkah, untuk tetap bermimpi.
Farhan menilai, keluarga Nuryani masuk dalam kategori kelompok sangat rentan yakni perempuan dan anak-anak tanpa tulang punggung keluarga. Ia menyebut pentingnya kehadiran negara dan masyarakat dalam memastikan mereka tidak berjalan sendirian.
“Di Bandung ini masih banyak warga kita yang membutuhkan bantuan. Karena itu harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Di sela kunjungan itu, Farhan juga memastikan kelengkapan administrasi kependudukan keluarga Nuryani. KTP, kartu keluarga, hingga Kartu Identitas Anak (KIA) menjadi perhatian penting agar bantuan dapat terus mengalir tanpa hambatan.
“KIA-nya harus lengkap ya, supaya semua bantuan bisa lancar,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan dari lingkungan sekitar. Pendamping sosial dan unsur kewilayahan diminta untuk terus hadir, memastikan Nuryani dan anak-anaknya tidak kembali terjebak dalam kesulitan yang sama.
“Saya titip, tolong dijaga. Pekerja sosial dan lingkungan harus terus mendampingi,” kata Farhan.
Sumber : Kepala Diskominfo Kota Bandung


