Misteri Dusun Cariu Ciamis: Pantangan Wayang, Sumpah Prabu Sirnaraja, dan Bayang-Bayang Kutukan Maut

CIAMIS, MATA-PERISTIWA.ID – Cerita urban Nusantara selalu menyimpan daya tarik tersendiri. Terutama, kisah-kisah misteri yang mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Salah satu kisah yang memicu rasa penasaran berada di Dusun Cariu, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Hingga detik ini, warga Dusun Cariu memegang teguh sebuah pantangan besar. Mereka dilarang keras menggelar pertunjukan wayang di wilayah tersebut.

Konon, siapa pun yang nekat melanggar larangan kuno ini akan mendatangkan kutukan mengerikan. Dampaknya mulai dari bencana alam, gagal panen massal, hingga kematian mendadak yang misterius.

Sumpah Sang Prabu dan Dua Versi Asal-Usul Kutukan

Ahmad Rizki Fauzi, seorang pegiat sejarah dan budaya dari Komunitas Cakra Mangsa Ciamis, mengonfirmasi keaslian mitos yang masih hidup tersebut pada Selasa (30/06/2026). Menurut penuturannya, masyarakat setempat memercayai dua versi sejarah terkait awal mula larangan ini.

Kedua kisah tersebut berpusat pada sosok Prabu Sirnaraja, Raja Kerajaan Samida, yang juga merupakan putra Prabu Siliwangi dari selir Dewi Nawangsih.

Versi Pertama: Amukan Badai Saat Pertunjukan Seni

Kisah pertama bermula saat Prabu Sirnaraja sedang berburu di wilayah Cariu. Untuk menyambut kedatangan sang raja, warga setempat menyajikan pertunjukan pantun yang mengemas sebuah lalakon atau drama sandiwara.

Namun, di tengah kemeriahan acara, cuaca mendadak berubah ekstrem. Hujan angin berkecamuk, langit gelap gulita, dan petir menyambar area tersebut. Bencana mendadak ini memicu kemarahan sang prabu.

Bacaan Lainnya

Ia kemudian mengeluarkan supata (sumpah/kutukan) yang melarang segala bentuk pertunjukan drama, termasuk wayang, di wilayah Cariu untuk selamanya.

Versi Kedua: Tersinggung karena Tokoh Resi Dorna

Versi lain menyebutkan bahwa Prabu Sirnaraja memiliki cacat fisik pada bagian tangan yang bengkok (kengkong). Sang raja akhirnya berhasil menyembuhkan tangannya setelah melakukan perjalanan ke wilayah Rancah.

Karena kondisi fisiknya dahulu, sang raja melarang pertunjukan wayang. Ia merasa tokoh wayang berkarakter tangan bengkok seperti Resi Dorna merupakan bentuk ejekan yang menyinggung perasaannya.

Sebagai gantinya, sang raja yang gemar menari memperkenalkan kesenian ronggeng sebagai hiburan alternatif bagi warga Cariu hingga saat ini.

Petaka Nyata Bagi yang Nekat Melanggar

Mitos ini bukan sekadar cerita pengantar tidur untuk menakuti anak-anak. Keyakinan warga Cariu justru semakin menebal setelah beberapa kejadian mistis menimpa orang-orang yang mencoba menantang pantangan tersebut pada masa lalu.

Fauzi menceritakan bahwa dahulu pernah ada warga yang nekat menggelar pertunjukan wayang. Tak lama setelah acara dimulai, berbagai keanehan dan musibah langsung beruntun terjadi.

“Mulai dari mesin genset yang meledak tiba-tiba tanpa sebab, hingga kematian mendadak anggota keluarga penyelenggara acara pada keesokan harinya,” ungkap Fauzi.

Rentetan peristiwa tragis itulah yang mengunci kesadaran psikologis masyarakat Dusun Cariu. Hingga hari ini, mereka memilih untuk tetap menghormati aturan leluhur dan menjauhkan pertunjukan wayang dari kampung mereka demi keselamatan bersama. (HD)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *