Surabaya ,mata-peristiwa.id – Seorang seniman dan penggiat seni rupa asal Indonesia , Satya Oktabrian lulusan Program Studi Seni Rupa Murni dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA ).Minggu (23/08/2026).
Berbagai seni rupa telah diikuti di berbagai kota , ia aktif berkarya serta terlibat dalam kolaborasi seni rupa antar kampus di Surabaya.
Ia bekerja di SDK Santo Yusup Tropodo Sidoarjo dan pernah menjadi Pendidik Seni Rupa di SLB Ayodya Tuladha Surabaya.
Riwayat Organisasi menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya dan berbagai skills.
Dari tahun 2019 mengikuti Pameran Guyub Rupa di Semarang , 2020 Pameran Dendang Calon Guru Yogyakarta , Jatim Biennale VII Sidoarjo. Tahun 2021 ikuti Pameran Corona Wariors (ARSMB )di India dan Sengkuni Art Exhibition di Gresik , tahun 2022 Pameran di Yogyakarta Matrakriya Fest , 2023 Bang – Bang Wetan Yogyakarta , di tahun 2024 Mini Art Malang , ART Jakarta.
Satya menerangkan bahwa
Pendidikan tidak semata-mata tentang mengejar nilai akademik.
Lebih jauh, pendidikan merupakan ruang untuk membentuk karakter, mengembangkan kreativitas, melatih cara berpikir, sekaligus menumbuhkan kepekaan anak terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Sekolah dituntut tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kreativitas, kemampuan berpikir kritis, karakter, dan keberanian untuk mengembangkan potensi dirinya.
Pemerintah Indonesia sendiri menempatkan pendidikan sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan. Konstitusi bahkan mengamanatkan alokasi anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD.
Namun, besarnya perhatian melalui kebijakan dan anggaran belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan.
Berbagai tantangan masih terlihat, mulai dari kualitas pembelajaran, kesenjangan sarana dan prasarana, perubahan kebijakan, kompetensi pendidik, hingga metode pembelajaran yang terkadang masih terlalu berorientasi pada hasil.
Data PISA 2022 juga menjadi salah satu gambaran mengenai tantangan tersebut. Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan pembenahan yang tidak hanya menyentuh aspek kurikulum, tetapi juga pendekatan pembelajaran.
Seni yang Kerap Dipandang Sebelah Mata.
Salah satu bidang yang sering belum memperoleh perhatian sebanding adalah pendidikan seni, khususnya seni rupa.
Seni rupa pada anak bukan sekadar aktivitas menggambar, mewarnai, atau menghasilkan karya yang indah. Seni dapat menjadi bahasa visual bagi anak untuk menyampaikan perasaan, pengalaman, gagasan, dan cara mereka melihat dunia.
Sayangnya, pembelajaran seni di lingkungan pendidikan formal masih menghadapi berbagai keterbatasan. Durasi pembelajaran, fasilitas, kompetensi pendidik, kurikulum, hingga cara pandang masyarakat yang menganggap seni sebagai kebutuhan sekunder turut memengaruhi ruang tumbuh kreativitas anak.
Persoalan lain muncul ketika pembelajaran terlalu menekankan hasil akhir. Karya anak terkadang dinilai berdasarkan kerapian, kemiripan dengan contoh, atau ketepatan teknik.
Padahal, bagi anak, proses menciptakan karya justru merupakan bagian terpenting dari pembelajaran.
Ketika anak terus diarahkan untuk meniru contoh yang dianggap paling benar, ruang untuk bereksperimen dapat semakin sempit. Anak akhirnya lebih takut melakukan kesalahan daripada berani mencoba sesuatu yang baru.
Di sinilah pentingnya perubahan paradigma dalam pembelajaran seni.
Guru Bukan Lagi Otoritas Tunggal, Hubungan guru dan peserta didik juga menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana belajar yang sehat.
Relasi yang terlalu hierarkis berpotensi membuat anak merasa takut kepada guru. Kondisi tersebut dapat menghambat keberanian untuk bertanya, berpendapat, mencoba, bahkan melakukan kesalahan.
Pendekatan humanistik menawarkan perspektif berbeda. Guru tidak ditempatkan semata-mata sebagai otoritas tunggal, melainkan sebagai fasilitator yang mendampingi anak dalam menemukan dan mengembangkan potensinya.
Dalam ruang belajar semacam ini, guru dan anak sama-sama menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Prinsip tersebut sejalan dengan gagasan bahwa setiap anak memiliki keunikan, minat, karakter, dan kecepatan perkembangan yang berbeda.
Pablo Picasso pernah dikenal dengan ungkapan bahwa setiap anak terlahir sebagai seniman. Terlepas dari perdebatan mengenai atribusi kutipan tersebut, gagasan yang terkandung di dalamnya relevan untuk melihat kreativitas sebagai potensi yang perlu dijaga dan dikembangkan.
Tantangannya bukan sekadar membuat anak menjadi kreatif, tetapi bagaimana memastikan kreativitas tersebut tidak hilang ketika anak memasuki sistem pendidikan yang semakin terstruktur.
Kelas Merdeka Hadir sebagai Ruang Alternatif
Berangkat dari berbagai persoalan tersebut, Kelas Merdeka hadir sebagai ruang alternatif dalam pembelajaran seni, khususnya seni rupa anak.
Kelas Merdeka tidak hanya ditempatkan sebagai tempat untuk mengajarkan teknik menggambar atau menghasilkan karya. Lebih dari itu, ruang ini dirancang sebagai media eksplorasi yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenali potensi dan menemukan karakter berkaryanya.
Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada pembelajaran humanistik. Materi dan proses pembelajaran tidak dipaksakan seragam, tetapi disesuaikan dengan perkembangan, minat, dan potensi masing-masing anak.
Prinsipnya sederhana: anak tidak harus dipaksa menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Ibaratnya, ayam dibiarkan berkokok dan tidak dipaksa menggonggong. Anak elang diberi ruang untuk belajar terbang dan tidak dipaksa berenang.
Begitu pula dalam seni. Anak diberi kesempatan mencoba, bereksperimen, menemukan bentuk, membuat kesalahan, kemudian belajar dari proses tersebut.
Kesalahan tidak diposisikan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan kreatif.
Kemerdekaan yang Bukan Sekadar Bebas
Kebebasan dalam Kelas Merdeka bukan berarti pembelajaran tanpa arah.
Justru melalui kebebasan yang terarah, anak belajar mengenal proses, membangun konsentrasi, melatih kesabaran, bertanggung jawab terhadap pilihannya, sekaligus memahami bahwa sebuah karya membutuhkan proses.
Anak tidak hanya belajar membuat gambar, tetapi belajar mengambil keputusan.
Mereka belajar menentukan apa yang ingin dibuat, bagaimana cara mewujudkannya, apa yang harus diperbaiki, dan bagaimana menyelesaikan proses kreatifnya.
Dengan suasana yang lebih santai dan fleksibel, ruang belajar dapat menjadi tempat yang menyenangkan tanpa kehilangan kedalaman proses pendidikan.
Inilah yang menjadi kekuatan pendekatan humanistik: melihat anak bukan sebagai objek yang harus diisi dengan pengetahuan, tetapi sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang.
Menjaga Kreativitas Sejak Dini, Pendidikan ideal pada akhirnya bukan pendidikan yang menyeragamkan semua anak, melainkan pendidikan yang mampu menghargai keunikan setiap individu.
Setiap anak memiliki cara belajar, minat, kemampuan, dan karakter yang berbeda.
Karena itu, memberikan ruang untuk berekspresi bukan berarti mengabaikan pendidikan, tetapi justru membuka kesempatan agar pendidikan benar-benar menyentuh kebutuhan anak.
Kelas Merdeka mencoba menghadirkan gagasan tersebut melalui pembelajaran seni yang menempatkan anak sebagai subjek utama.
Di tengah sistem pendidikan yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, ruang-ruang alternatif semacam ini dapat menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai, peringkat, dan hasil ujian.
Pendidikan juga berbicara tentang keberanian untuk mencoba, kebebasan berpikir, kemampuan menerima kesalahan, dan kesempatan untuk menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, kemerdekaan dalam belajar bukan berarti bebas tanpa batas, melainkan memiliki ruang untuk tumbuh sesuai potensi dengan tetap mendapatkan pendampingan yang tepat.
Dalam ritme humanistik itulah Kelas Merdeka menemukan maknanya: menjadi ruang bagi anak untuk berkarya, bereksplorasi, dan belajar menjadi dirinya sendiri.(Et)




