GARUT, MATA-PERISTIWA.ID – Sebuah pemandangan memilukan di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Garut pada Rabu (24/6/2026) mendadak viral dan memicu gelombang keprihatinan publik. Bukan karena aksi demonstrasi besar atau bentrok kebijakan, melainkan akibat perlakuan berlebihan yang diterima seorang warga berinisial H hanya karena mengambil satu bungkus nasi box.
Di balik insiden yang terkesan sepele tersebut, tersimpan sebuah ironi yang menyentuh sisi terdalam kemanusiaan.
Kepada sejumlah awak media, H mengaku nekat mengambil nasi box di area perkantoran pemerintah itu karena kondisi perutnya yang sangat lapar dan tidak memegang uang sepeser pun untuk membeli makanan. Ia mengaku sejak pagi belum mengonsumsi apa pun, di tengah kondisi kesehatannya yang terus digerogoti penyakit dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya lapar dan tidak punya uang untuk membeli makan,” tutur H dengan suara lirih dan tatapan kosong.
Mantan Pejuang Aspirasi yang Terlupakan
Sosok H sebenarnya bukan orang asing di lingkaran Pemerintah Kabupaten Garut. Bagi para jurnalis dan pejabat lama, ia dikenal sebagai aktivis senior yang dahulu vokal mengawal berbagai isu kebijakan publik serta bertahun-tahun menyuarakan hak-hak masyarakat kecil.
Namun, roda kehidupan berputar. Kondisi fisik yang menurun drastis membuat aktivitasnya lumpuh, hingga ia perlahan terlupakan. Beberapa rekan sejawat yang kebetulan berada di lokasi mengaku terenyuh sekaligus terkejut saat melihat H kembali dengan postur tubuh kurus, lemah, dan berjalan sempoyongan.
Kekecewaan para aktivis Garut memuncak bukan karena penertiban aturan, melainkan hilangnya aspek moral dan respons yang dinilai terlalu represif terhadap seorang manusia yang kelaparan.
Gugat Pendekatan Kemanusiaan Birokrasi
Insiden ini langsung memicu reaksi keras dari solidaritas aktivis di Garut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Setda Garut untuk memberikan pembelaan sekaligus menyuarakan kritik terbuka terhadap hilangnya kepekaan sosial di lingkungan birokrat.
Salah seorang perwakilan aktivis yang hadir menegaskan beberapa poin refleksi atas peristiwa ini:
-
Hormati Aturan, Utamakan Nurani: Aturan protokoler dinilai tetap harus dihormati, namun dalam kasus kelaparan akut, pendekatan kemanusiaan darurat wajib diberi ruang yang sama besar.
-
Evaluasi Jaring Pengaman Sosial: Kasus ini menjadi tamparan keras di tengah hiruk-pikuk klaim keberhasilan pembangunan dan program kesejahteraan daerah.
-
Pentingnya Tabayun dan Dialog: Menuntut agar penyelesaian masalah di area publik lebih mengedepankan dialog humanis daripada langsung melakukan tindakan yang mempermalukan martabat seseorang.
“Kami selaku sahabat meminta maaf atas kekhilafan yang dilakukan saudara kami. Tetapi tolong, lihat persoalan ini secara utuh dengan mata hati. Ini soal urusan perut yang lapar, bukan tindakan kriminal murni,” ujar salah satu aktivis di lokasi.
Peristiwa ini menjadi cermin retak bahwa di balik megahnya gedung pemerintahan, masih ada warga—bahkan mantan pejuang aspirasi—yang harus terseok-seok memenuhi kebutuhan paling dasar untuk bertahan hidup. Lebih dari sekadar urusan logistik, insiden satu bungkus nasi box ini adalah ujian tentang sejauh mana empati dan cara kita memanusiakan manusia di titik terendah hidupnya.
(Mata-Peristiwa.ID/IRWI)





