Kasih Ibu Sepanjang Masa

Oleh: Dede Farhan Aulawi

Hujan turun perlahan ketika Raka berdiri di depan pusara ibunya. Tangannya menggenggam bunga melati yang mulai basah oleh gerimis. Sudah tiga tahun ibunya pergi, tetapi rasa kehilangan itu masih terasa seperti kemarin.

Saat kecil, Raka sering mengeluh. Ia malu karena ibunya hanya seorang penjual sayur keliling. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ibunya sudah mendorong gerobak tua menyusuri kampung demi membiayai sekolahnya.

“Bu, kenapa Ibu tidak seperti ibu-ibu teman Raka yang kerja di kantor?” tanyanya suatu hari.

Ibunya hanya tersenyum. “Karena pekerjaan Ibu adalah memastikan Raka bisa meraih cita-cita.”

Namun Raka tidak pernah benar-benar memahami arti kata-kata itu.

Tahun demi tahun berlalu. Raka berhasil menjadi seorang insinyur dan bekerja di kota besar. Kesibukan membuatnya jarang pulang. Telepon dari ibunya sering tidak diangkat karena dianggap mengganggu pekerjaan.

“Kalau sudah sukses, jangan lupa pulang, Nak. Ibu rindu,” pesan ibunya dalam sebuah panggilan yang tak sempat ia jawab.

Bacaan Lainnya

Pesan itu menjadi pesan terakhir.

Beberapa hari kemudian, kabar duka datang. Ibunya meninggal karena sakit yang selama ini disembunyikan agar tidak membebani anaknya.

Ketika membersihkan rumah sederhana peninggalan ibunya, Raka menemukan sebuah kotak tua. Di dalamnya terdapat buku tabungan yang hampir kosong, foto-fotonya sejak kecil, dan secarik surat.

“Untuk Raka, anak kesayangan Ibu. Jika suatu hari surat ini kau baca, mungkin Ibu sudah tidak ada. Ibu tidak pernah meminta apa-apa selain melihatmu bahagia. Maaf jika hidup Ibu sederhana. Semua yang Ibu miliki telah Ibu berikan untukmu. Jangan sedih. Di mana pun Ibu berada, doa Ibu akan selalu menyertaimu.”

Air mata Raka jatuh tanpa mampu ditahan. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa selama hidupnya, ada seseorang yang mencintainya tanpa syarat, tanpa meminta balasan, dan tanpa pernah mengeluh meski harus berkorban segalanya.

Kini, setiap kali ia datang ke makam itu, Raka selalu berbisik pelan,

“Bu, maafkan Raka yang terlambat mengerti. Kasih Ibu memang sepanjang masa, tetapi waktu bersama Ibu ternyata tidak selamanya.”

Hujan semakin deras. Namun tak ada yang mampu menyembunyikan air mata seorang anak yang merindukan pelukan ibunya untuk terakhir kali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *