Menelusuri Kejayaan Kerajaan Pajajaran: Istana Pakuan, Misteri Prabu Siliwangi dan Kosmologi Jatisunda

MATA-PERISTIWA.ID – Kerajaan Pajajaran berdiri sebagai penerus “resmi” dari Kerajaan Sunda. Menggunakan Harimau Putih sebagai lambang kebesaran, kerajaan ini mengukir sejarah panjang yang memikat di Tatar Pasundan.

Berdasarkan catatan penjelajah Portugis, Tome Pires (1513), masyarakat sehari-hari menyebut ibu kota kerajaan ini dengan sebutan “dayo” (dayeuh). Namun, dalam dokumen resmi dan tradisi kesusastraan, ibu kota tersebut masyhur dengan nama Pakuan Pajajaran.

Asal-usul Nama Pakuan Pajajaran Menurut Para Ahli

Arti nama Pakuan Pajajaran memicu berbagai penafsiran di kalangan sejarawan. Saleh Danasasmita (1983) dalam bukunya Sejarah Bogor, merangkum beberapa versi berikut:

Megahnya Istana Pakuan dan Tata Kota yang Modern

Secara geografis, pusat Pajajaran terletak di dataran tinggi yang diapit oleh aliran Sungai Ciliwung dan Cisadane. Tebing-tebing sungai ini berfungsi sebagai benteng pertahanan alamiah.

Gambaran kemegahan Pajajaran terekam dalam laporan ekspedisi tentara kompeni, Abraham Van Reibeeck. Ia mencatat adanya parit-parit dalam yang mengerikan serta benteng tinggi di lokasi bekas Istana Pakuan.

Di dalam ibu kota, terdapat lima bangunan keraton utama (Panca Persada):

  1. Sri Bima

  2. Punta

  3. Narayana

  4. Madura

  5. Suradipati (Keraton Induk)

Kompleks keraton ini dikelilingi oleh 330 pilar setinggi 9 meter dengan ukiran indah di puncaknya. Di luar Pakuan, Pajajaran juga mengontrol keraton regional seperti Surawisesa (Kawali), Surasowan (Banten), dan Surakarta (Jayakarta).

Pada masanya, Pakuan (Bogor) berpenduduk sekitar 48.271 jiwa. Angka ini menjadikannya kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak (49.197 jiwa), dan dua kali lipat lebih besar dari Pasai. Tome Pires mencatat rumah-rumah di Pakuan tersusun rapi, berukuran besar, dan terbuat dari kayu serta palem.

Agama Jatisunda dan Harmonisasi Spiritual

Meskipun Hindu merupakan agama resmi kerajaan, dalam praktiknya agama leluhur kembali mendominasi kehidupan masyarakat melalui ajaran Jatisunda. Pemuka agama Hindu saat itu berkompromi dengan memposisikan Batara Seda Niskala (sebutan lain untuk Hiyang) di atas dewa-dewa Hindu.

Hiyang dipuja sebagai Tuhan Yang Maha Esa melalui beberapa julukan rohani:

  • Batara Seda Niskala (Yang Gaib)

  • Batara Tunggal (Yang Maha Esa)

  • Sanghiyang Keresa (Yang Kuasa)

  • Batara Jagat (Yang Menguasai Alam Semesta)

Cita-cita tertinggi penganut Jatisunda adalah bersatunya sukma dengan Hiyang setelah kematian. Untuk mempercepat proses pelepasan wujud kasar ini, masyarakat Pajajaran mempraktikkan tradisi kremasi (pembakaran jenazah).

Seiring waktu, ajaran Islam masuk ke tanah Sunda secara damai melalui para ulama seperti Syekh Hasanudin (Syekh Quro) di Karawang, Syekh Datuk Kahfi, hingga Sunan Gunung Jati di Cirebon. Uniknya, jika Hinduisme masuk melalui elite keraton, Islamisasi di tanah Sunda bergerak dari bawah (rakyat jelata) karena adanya kesamaan konsep antara Batara Tunggal dalam Jatisunda dengan konsep Allahu Ahad (Esa) dalam Islam.

Sistem Pajak, Ekonomi, dan Pelabuhan Internasional

Setiap tahun, Pajajaran menggelar upacara Gurubumi dan Kuwerabakti sebagai ucapan syukur atas hasil panen. Berdasarkan Kropak 630, struktur pajak di Pajajaran terbagi menjadi empat kategori:

  1. Dasa: Sistem kerja bakti perorangan untuk kepentingan raja.

  2. Calagra: Kerja bakti massal (misalnya memelihara saluran air atau berburu) yang dipimpin oleh prajurit (wadwa).

  3. Upeti: Pajak daerah berupa hasil bumi (seperti wilayah Kandang Wesi Garut yang wajib mengirim 10 pikul kapas per tahun).

  4. Panggeureus Reuma: Padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang yang ditinggalkan, yang menjadi hak penguasa.

Pajajaran memiliki jaringan transportasi darat yang maju berupa jalan raya yang dapat dilalui pedati. Sisa jalannya kini masih dapat dijumpai di Karangkamulyan, Ciamis.

Di sektor maritim, Pajajaran menguasai pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi kapal dari India, Tiongkok, hingga Ryukyu (Jepang). Pelabuhan utamanya adalah Pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa), didukung oleh pelabuhan lain seperti Pontang, Cibanten, Cigede, Muara Jati (Cirebon), Tamgara, Muara Citarum, dan Muara Cimanuk. Komoditas ekspor utamanya meliputi beras, lada (1.000 bahar/tahun), kain tenun, daging, dan asam.

Kujang: Senjata Khas Berdasarkan Strata Sosial

Senjata ikonik Pajajaran adalah Kujang. Penggunaannya sangat eksklusif dan terbatas pada golongan tertentu seperti Raja, Prabu Anom (Putra Mahkota), golongan Pangiwa, Panengen, Agama, Putri, dan Kokolot (tetua).

Bentuk Kujang disesuaikan dengan strata sosial dan fungsi, antara lain Kujang Ciung, Jago, Kuntul, Bangkong, Naga, Badak, dan Kudi. Secara anatomi, bilah Kujang memiliki bagian-bagian spesifik:

  • Papatuk/Congo: Ujung runcing untuk mencungkil.

  • Eluk/Siih: Lekukan pada bilah untuk mencabik.

  • Mata: Lubang kecil pada bilah (berjumlah 5 hingga 9 lubang; jika tanpa lubang disebut Kujang Buta).

  • Pamor (Sulangkar/Tutul): Serat garis pada bilah yang konon mengandung racun.

Hukum Negara: Sanghyang Siksakanda ng Karesian

Pajajaran bersandar pada naskah hukum tertulis seperti Sanghyang Siksakanda ng Karesian (ditulis tahun 1518 M) dan Séwaka Darma. Ditulis menggunakan peso pangot di atas daun lontar, naskah ini menggunakan bahasa Sunda Kuno dengan pengaruh bahasa Sanskerta.

Hukum ini mengatur etika hidup manusia, termasuk larangan menghindari Catur Buta (empat sifat buruk): burangkak (ketus/kasar), marende, mariris, dan wirang. Salah satu petuah bijak dalam Kropak 630 berbunyi:

“Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu.” (Hendaknya kita tidur sekadar penghilang kantuk, minum tuak sekadar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa).

Kisah Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi)

Sebelum menyatukan Sunda dan Galuh, Prabu Jayadewata lahir di Kawali pada tahun 1401 dengan nama muda Pamanahrasa. Ia adalah pengembara ulung yang gemar menyamar demi menimba ilmu.

Dengan nama samaran Keukeumbingan Rajasunu, ia memenangkan sayembara tarung satria di Kerajaan Sing Apura dan mengalahkan Prabu Amuk Marugul. Atas kemenangan itu, Jayadewata menikahi Subanglarang (seorang santriwati muslim dari Pesantren Quro Karawang) pada tahun 1422. Dari pernikahan ini, lahir tiga anak: Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Nyai Larasantang, dan Rajasangara (Kiansantang).

Jayadewata kemudian juga menikahi Kentring Manik Mayang Sunda (adik Amuk Marugul) dan diangkat menjadi Putra Mahkota Pakuan. Karena kecakapannya, ia menjadi figur tunggal yang berhasil menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang sempat berselisih.

Daftar Penguasa dan Era Emas Prabu Siliwangi

Jayadewata naik takhta pada tahun 1482 (dalam usia 81 tahun) dengan gelar resmi Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Gelar Prabu Siliwangi sendiri bukanlah nama resmi, melainkan nama kesusastraan dari rakyat. Kata ini berasal dari kata “silih” (pengganti) dan “wangi” (merujuk pada keharuman nama kakeknya, Prabu Niskala Wastukancana). Rakyat menggunakannya karena adanya tabu budaya untuk menyebut nama asli raja secara langsung.

Di bawah kepemimpinannya (1482–1521), Pajajaran mengalami era keemasan (Kretayuga). Beberapa karya monumental Sri Baduga Maharaja meliputi:

  • Membangun benteng tanah dan parit pertahanan sepanjang 3 km di sepanjang tebing Cisadane.

  • Membuat bukit buatan (Gunung-gunungan) Badigul di Rancamaya sebagai pusat upacara suci.

  • Membangun telaga buatan raksasa bernama Sang Hyang Talaga Rena Mahawijaya untuk sarana irigasi dan pariwisata.

  • Menetapkan hutan lindung tanaman samida sebagai penampung air alami (reservoir).

  • Memperkeras akses jalan raya berbatu dari keraton hingga wilayah Rancamaya sepanjang 7 kilometer.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *